Asuhan Keperawatan (Askep) Skizofrenia
Pengertian Skizofrenia
Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat (psikotik) yang ditandai oleh distorsi pikiran, persepsi, emosi, bahasa, dan perilaku yang berlangsung kronis dan cenderung kambuh. Manifestasinya dikelompokkan menjadi gejala positif (halusinasi, waham, perilaku kacau) dan gejala negatif (afek datar, menarik diri sosial, avolisi/kehilangan motivasi, alogia). Berdasarkan PPDGJ-III/ICD, diagnosis ditegakkan bila gejala khas berlangsung minimal 1 bulan disertai penurunan fungsi sosial-okupasional, dan tidak disebabkan gangguan organik atau penggunaan zat. Perjalanan penyakit melewati fase akut (gejala psikotik dominan), stabilisasi, dan rumatan (pemeliharaan), dengan kepatuhan minum antipsikotik sebagai kunci pencegahan relaps.
Etiologi (Penyebab)
- Faktor neurobiologis: hipotesis dopamin (hiperaktivitas jalur mesolimbik memicu gejala positif, hipoaktivitas jalur mesokortikal memicu gejala negatif) serta keterlibatan glutamat dan serotonin
- Faktor genetik: risiko meningkat bila ada riwayat keluarga (risiko ~10% pada anak salah satu orang tua skizofrenia, hingga ~48% pada kembar monozigot)
- Faktor struktural otak: pembesaran ventrikel, penurunan volume lobus frontal dan temporal
- Faktor psikososial dan stres (model stres-diathesis): tekanan keluarga dengan ekspresi emosi tinggi, stresor lingkungan
- Komplikasi prenatal/perinatal: infeksi maternal, malnutrisi, hipoksia saat lahir
- Penyalahgunaan zat (kanabis, amfetamin) sebagai faktor pencetus pada individu rentan
Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)
- Gejala positif: halusinasi (paling sering auditorik/mendengar suara), waham (kejar, kebesaran, curiga, rujukan)
- Pikiran dan pembicaraan kacau: asosiasi longgar, inkoheren, neologisme
- Perilaku kacau atau katatonik (gaduh gelisah atau stupor/posturing)
- Gejala negatif: afek datar/tumpul, alogia (miskin bicara), avolisi (hilang motivasi), anhedonia
- Menarik diri sosial (isolasi sosial) dan penurunan fungsi sosial-okupasional
- Gangguan kognitif: gangguan atensi, memori kerja, dan fungsi eksekutif
- Penurunan perawatan diri (defisit perawatan diri: mandi, berpakaian, makan)
- Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri atau orang lain, terutama saat halusinasi/waham aktif
Pengkajian Keperawatan
Data yang dikaji perawat pada pasien Skizofrenia:
- Riwayat psikiatri: awitan gejala, fase (akut/stabilisasi/rumatan), riwayat rawat dan kekambuhan, riwayat keluarga gangguan jiwa
- Pengkajian halusinasi: jenis, isi, frekuensi, waktu muncul, respons/perilaku saat halusinasi (bicara/tertawa sendiri, melirik, menutup telinga)
- Pengkajian waham: jenis dan isi waham, keyakinan terhadap waham, dampak pada perilaku
- Status mental: penampilan, afek/mood, proses dan isi pikir, persepsi, orientasi, daya tilik diri (insight)
- Risiko perilaku kekerasan dan risiko bunuh diri: ide, rencana, riwayat percobaan, tanda agitasi
- Kemampuan perawatan diri (mandi, berpakaian, makan, eliminasi) dan pola makan/tidur
- Tingkat kepatuhan dan efek samping antipsikotik (EPS, distonia, sindrom metabolik), kadar bila tersedia
- Dukungan dan koping keluarga, ekspresi emosi keluarga, sistem pendukung sosial
Diagnosa & Intervensi Keperawatan
Berikut diagnosa keperawatan utama Skizofrenia (SDKI) beserta intervensi (SIKI):
1. Gangguan persepsi sensori b.d gangguan psikotik d.d klien mendengar suara/bisikan, bicara dan tertawa sendiri, menarik diri
Intervensi Keperawatan:
- Manajemen Halusinasi: monitor perilaku yang mengindikasikan halusinasi (mengarahkan telinga, bicara sendiri); identifikasi jenis, isi, frekuensi, dan waktu munculnya halusinasi
- Latih SP halusinasi bertahap: SP1 menghardik halusinasi, SP2 bercakap-cakap dengan orang lain, SP3 melakukan aktivitas terjadwal, SP4 minum obat secara teratur
- Pertahankan lingkungan yang aman dan tidak menstimulasi; hindari perdebatan tentang isi halusinasi (jangan mendukung dan jangan membantah)
- Edukasi klien dan keluarga cara mengontrol halusinasi dan mengenali tanda kekambuhan
- Kolaborasi pemberian antipsikotik dan monitor respons serta efek samping obat
2. Risiko perilaku kekerasan d.d adanya waham dan halusinasi (terutama perintah/command), gangguan pengendalian impuls, dan tanda agitasi
Intervensi Keperawatan:
- Monitor tanda risiko perilaku kekerasan (agitasi, nada bicara tinggi, mengepalkan tangan, gelisah) dan faktor pencetus
- Ciptakan lingkungan aman: jauhkan benda berbahaya, batasi stimulus, pertahankan jarak dan posisi aman saat berinteraksi
- Latih cara mengontrol marah secara konstruktif: teknik relaksasi/tarik napas dalam, fisik (pukul bantal), verbal/asertif, dan spiritual
- Lakukan deeskalasi verbal dengan sikap tenang dan tegas; terapkan pembatasan/restraint hanya sesuai indikasi dan prosedur
- Kolaborasi pemberian terapi (antipsikotik/sedasi) dan dokumentasikan respons klien
3. Isolasi sosial b.d gejala negatif (afek datar, avolisi) dan ketidakmampuan menjalin hubungan d.d klien menarik diri, afek datar, kontak mata kurang
Intervensi Keperawatan:
- Bina hubungan saling percaya dengan komunikasi terapeutik; gunakan kontak singkat namun sering
- Identifikasi penyebab dan dampak isolasi sosial serta keuntungan berinteraksi dan kerugian menarik diri
- Latih klien berkenalan dan berinteraksi secara bertahap (perawat, satu orang, kelompok kecil, lalu kelompok lebih besar)
- Libatkan klien dalam Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) sosialisasi dan aktivitas terjadwal
- Libatkan dan edukasi keluarga untuk memberi dukungan serta memfasilitasi interaksi klien di rumah
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi disusun dalam format SOAP: S (klien menyatakan suara/bisikan berkurang dan mampu menghardik halusinasi), O (klien tampak tenang, kooperatif, mempraktikkan SP, tidak ada tanda perilaku kekerasan, mulai berinteraksi dengan orang lain), A (masalah gangguan persepsi sensori teratasi sebagian), P (lanjutkan latihan SP halusinasi, pantau kepatuhan obat, dan libatkan keluarga untuk pencegahan kekambuhan). Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep Halusinasi · Askep Waham · Askep Isolasi Sosial · Daftar Askep Lengkap
Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?
Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Skizofrenia
Apa perbedaan gejala positif dan gejala negatif pada skizofrenia?
Gejala positif adalah penambahan fungsi abnormal seperti halusinasi, waham, dan perilaku kacau yang menonjol saat fase akut. Gejala negatif adalah pengurangan fungsi normal seperti afek datar, menarik diri sosial, avolisi (hilang motivasi), dan alogia, yang cenderung menetap dan paling sulit diobati.
Apa urutan SP (Strategi Pelaksanaan) untuk pasien halusinasi?
SP1 mengajarkan menghardik halusinasi, SP2 mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap bersama orang lain, SP3 melakukan aktivitas terjadwal agar tidak melamun, dan SP4 minum obat secara teratur (prinsip benar obat). SP keluarga melatih keluarga merawat dan mengenali tanda kekambuhan.
Mengapa kepatuhan minum antipsikotik sangat penting pada skizofrenia?
Antipsikotik mengendalikan gejala dengan menyeimbangkan dopamin, terutama gejala positif. Putus obat adalah penyebab utama kekambuhan; setiap relaps dapat memperburuk prognosis dan menurunkan respons terapi. Edukasi kepatuhan, pengawasan minum obat oleh keluarga, dan terapi rumatan jangka panjang menjadi kunci stabilitas.
