Asuhan Keperawatan (Askep) Asfiksia Neonatorum
Pengertian Asfiksia Neonatorum
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernapas secara spontan, adekuat, dan teratur segera setelah lahir, sehingga tidak mampu mempertahankan pertukaran gas yang memadai. Kondisi ini mengakibatkan penurunan kadar oksigen (hipoksia), peningkatan karbon dioksida (hiperkapnia), dan asidosis metabolik maupun respiratorik. Bila berlangsung, hipoksia jaringan dapat menimbulkan gangguan perfusi multiorgan, terutama cedera otak hipoksik-iskemik (HIE). Derajat asfiksia secara klinis dinilai dengan skor APGAR pada menit ke-1 dan ke-5: nilai 7-10 dianggap normal/vigorous, 4-6 asfiksia ringan-sedang, dan 0-3 asfiksia berat. Asfiksia merupakan kegawatdaruratan neonatal yang membutuhkan resusitasi segera dan terstruktur sesuai algoritma resusitasi neonatus.
Etiologi (Penyebab)
- Faktor ibu: hipertensi/preeklampsia-eklampsia, perdarahan antepartum (solusio/plasenta previa), hipotensi, infeksi, demam, hipoksia ibu, dan penyakit kronik (anemia, jantung, DM)
- Faktor plasenta dan tali pusat: insufisiensi plasenta, infark plasenta, prolaps/lilitan/simpul tali pusat, kompresi tali pusat
- Faktor janin/intrapartum: persalinan lama atau macet, presentasi abnormal, distosia bahu, partus dengan tindakan (forsep/vakum), gawat janin
- Kelainan janin: prematuritas, BBLR, IUGR, kelainan kongenital jalan napas/jantung, kembar
- Depresi pernapasan akibat obat: anestesi/analgesia narkotik pada ibu menjelang persalinan
- Aspirasi mekonium atau sumbatan jalan napas pada bayi baru lahir
Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)
- Tidak bernapas atau napas megap-megap (gasping) saat lahir
- Frekuensi jantung lambat (bradikardia) <100 kali/menit atau tidak ada denyut
- Tonus otot lemah/lemas (hipotoni), bayi tidak aktif
- Warna kulit pucat atau sianosis (biru) sentral
- Skor APGAR rendah: 4-6 (asfiksia ringan-sedang) atau 0-3 (asfiksia berat)
- Refleks/respons terhadap rangsang menurun atau tidak ada
- Hasil analisis gas darah: pH menurun (asidosis), PaO2 menurun, PaCO2 meningkat
- Pada kasus berat: kejang, penurunan kesadaran, tanda disfungsi multiorgan
Pengkajian Keperawatan
Data yang dikaji perawat pada pasien Asfiksia Neonatorum:
- Penilaian awal segera lahir: apakah cukup bulan, ketuban jernih/bermekonium, bayi bernapas/menangis, dan tonus otot baik
- Skor APGAR pada menit ke-1 dan ke-5 (Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration); ulangi tiap 5 menit bila <7
- Frekuensi dan pola napas: ada/tidaknya napas spontan, gasping, retraksi, merintih, napas cuping hidung
- Frekuensi jantung (dihitung 6 detik x10 atau dengan pulse oksimeter/EKG); patokan kritis <100 dan <60 kali/menit
- Saturasi oksigen preduktal (tangan kanan) dibandingkan target SpO2 sesuai menit usia
- Tonus otot, aktivitas, warna kulit (sianosis sentral vs akrosianosis), dan respons rangsang
- Suhu tubuh dan risiko hipotermia (kehilangan panas), serta kelengkapan rantai hangat
- Riwayat antenatal-intrapartum (faktor risiko ibu/plasenta/janin) dan hasil analisis gas darah/laboratorium bila tersedia
Diagnosa & Intervensi Keperawatan
Berikut diagnosa keperawatan utama Asfiksia Neonatorum (SDKI) beserta intervensi (SIKI):
1. Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi d.d hipoksia, sianosis, dan PaO2 menurun/PaCO2 meningkat
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: monitor frekuensi, irama, kedalaman napas; pantau saturasi oksigen (SpO2 preduktal) dan warna kulit
- Observasi: pantau frekuensi jantung dan hasil analisis gas darah (pH, PaO2, PaCO2) bila tersedia
- Terapeutik: posisikan bayi semi-ekstensi (sniffing position), bebaskan jalan napas dengan isap lendir mulut lalu hidung bila perlu
- Terapeutik: berikan ventilasi tekanan positif (VTP) dan oksigen terkontrol sesuai target SpO2 menurut menit usia
- Kolaborasi: kolaborasi pemberian oksigen lanjutan/CPAP, intubasi, serta surfaktan sesuai indikasi medis
2. Pola napas tidak efektif b.d depresi pusat pernapasan akibat hipoksia d.d napas megap-megap (gasping), apnea, dan penggunaan otot bantu napas
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: monitor pola, frekuensi, dan usaha napas (gasping, apnea, retraksi, merintih, napas cuping hidung)
- Observasi: nilai ulang skor APGAR dan respons bayi terhadap langkah resusitasi
- Terapeutik: lakukan langkah awal resusitasi (HAIKAP): hangatkan, atur posisi, isap lendir, keringkan-rangsang taktil, atur ulang posisi
- Terapeutik: lakukan VTP 40-60 kali/menit bila bayi apnea/gasping atau frekuensi jantung <100 kali/menit, evaluasi tiap 30 detik
- Kolaborasi: kolaborasi pemasangan alat bantu napas dan pemberian obat resusitasi (mis. epinefrin) bila FJ tetap <60 kali/menit
3. Risiko hipotermia d.d bayi baru lahir/BBLR, peningkatan kebutuhan oksigen, dan paparan suhu lingkungan ekstrauterin saat resusitasi
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: monitor suhu tubuh bayi secara berkala dan tanda hipotermia (akral dingin, sianosis perifer, letargi)
- Terapeutik: terapkan rantai hangat sejak lahir: ruang bersalin hangat, keringkan tubuh segera, ganti kain basah
- Terapeutik: letakkan bayi di bawah pemancar panas (radiant warmer); pada bayi stabil lakukan kontak kulit-ke-kulit/perawatan metode kanguru
- Edukasi: ajarkan orang tua menjaga kehangatan bayi, menunda memandikan, dan mengenali tanda bayi kedinginan
- Kolaborasi: kolaborasi pengaturan suhu inkubator dan pemantauan suhu lanjutan sesuai kondisi bayi
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi disusun dalam format SOAP: data Subjektif terbatas (mengacu pada laporan orang tua/penolong persalinan) sedangkan Objektif berfokus pada APGAR menit ke-5/ke-10, frekuensi jantung, saturasi oksigen, pola napas, dan suhu; Assessment menilai apakah pertukaran gas dan pola napas membaik (mis. SpO2 sesuai target, FJ >100 kali/menit, napas spontan teratur, normotermia), dan Planning melanjutkan, memodifikasi, atau menghentikan intervensi sesuai capaian luaran SLKI. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) · Askep Hiperbilirubinemia Neonatus · Askep Meningitis · Daftar Askep Lengkap
Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?
Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Asfiksia Neonatorum
Apa itu skor APGAR dan bagaimana cara membacanya pada kasus asfiksia?
APGAR adalah penilaian klinis bayi baru lahir atas 5 komponen: Appearance (warna kulit), Pulse (frekuensi jantung), Grimace (respons rangsang), Activity (tonus otot), dan Respiration (usaha napas), masing-masing diberi skor 0-2. Dinilai pada menit ke-1 dan ke-5 (diulang tiap 5 menit bila <7). Nilai 7-10 normal, 4-6 asfiksia ringan-sedang, dan 0-3 asfiksia berat. APGAR dipakai untuk menilai kondisi dan respons resusitasi, bukan sebagai dasar untuk memulai resusitasi.
Apa langkah awal resusitasi neonatus dan apa itu VTP?
Langkah awal (sering disingkat HAIKAP) dilakukan dalam 30 detik pertama: Hangatkan bayi, Atur posisi kepala (semi-ekstensi/sniffing), Isap lendir mulut lalu hidung bila perlu, Keringkan sambil rangsang taktil, lalu Atur ulang Posisi. Jika setelah langkah awal bayi tetap apnea/megap-megap atau frekuensi jantung <100 kali/menit, segera dilakukan VTP (ventilasi tekanan positif) dengan balon-sungkup pada frekuensi 40-60 kali/menit dan dievaluasi setiap 30 detik.
Mengapa pencegahan hipotermia (rantai hangat) penting pada bayi asfiksia?
Bayi baru lahir, terutama yang asfiksia, sangat rentan kehilangan panas melalui evaporasi, konduksi, konveksi, dan radiasi. Hipotermia memperberat hipoksia karena meningkatkan konsumsi oksigen, memicu asidosis metabolik, dan menghambat keberhasilan resusitasi. Karena itu diterapkan rantai hangat: ruang bersalin hangat, segera mengeringkan tubuh dan mengganti kain basah, meletakkan bayi di radiant warmer, kontak kulit-ke-kulit, dan menunda memandikan.
