Lewati ke konten utama

Asuhan Keperawatan (Askep) Asfiksia Neonatorum

⚕️ Catatan: Konten ini adalah materi edukasi keperawatan untuk pembelajaran mahasiswa & tenaga kesehatan. Bukan pengganti penilaian klinis profesional. Setiap asuhan keperawatan harus disesuaikan dengan kondisi individual pasien.

Pengertian Asfiksia Neonatorum

Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernapas secara spontan, adekuat, dan teratur segera setelah lahir, sehingga tidak mampu mempertahankan pertukaran gas yang memadai. Kondisi ini mengakibatkan penurunan kadar oksigen (hipoksia), peningkatan karbon dioksida (hiperkapnia), dan asidosis metabolik maupun respiratorik. Bila berlangsung, hipoksia jaringan dapat menimbulkan gangguan perfusi multiorgan, terutama cedera otak hipoksik-iskemik (HIE). Derajat asfiksia secara klinis dinilai dengan skor APGAR pada menit ke-1 dan ke-5: nilai 7-10 dianggap normal/vigorous, 4-6 asfiksia ringan-sedang, dan 0-3 asfiksia berat. Asfiksia merupakan kegawatdaruratan neonatal yang membutuhkan resusitasi segera dan terstruktur sesuai algoritma resusitasi neonatus.

Etiologi (Penyebab)

Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)

Pengkajian Keperawatan

Data yang dikaji perawat pada pasien Asfiksia Neonatorum:

Diagnosa & Intervensi Keperawatan

Berikut diagnosa keperawatan utama Asfiksia Neonatorum (SDKI) beserta intervensi (SIKI):

1. Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi d.d hipoksia, sianosis, dan PaO2 menurun/PaCO2 meningkat

Intervensi Keperawatan:

2. Pola napas tidak efektif b.d depresi pusat pernapasan akibat hipoksia d.d napas megap-megap (gasping), apnea, dan penggunaan otot bantu napas

Intervensi Keperawatan:

3. Risiko hipotermia d.d bayi baru lahir/BBLR, peningkatan kebutuhan oksigen, dan paparan suhu lingkungan ekstrauterin saat resusitasi

Intervensi Keperawatan:

Evaluasi Keperawatan

Evaluasi disusun dalam format SOAP: data Subjektif terbatas (mengacu pada laporan orang tua/penolong persalinan) sedangkan Objektif berfokus pada APGAR menit ke-5/ke-10, frekuensi jantung, saturasi oksigen, pola napas, dan suhu; Assessment menilai apakah pertukaran gas dan pola napas membaik (mis. SpO2 sesuai target, FJ >100 kali/menit, napas spontan teratur, normotermia), dan Planning melanjutkan, memodifikasi, atau menghentikan intervensi sesuai capaian luaran SLKI. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.

Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) · Askep Hiperbilirubinemia Neonatus · Askep Meningitis · Daftar Askep Lengkap

Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?

Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.

📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3

Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Asfiksia Neonatorum

Apa itu skor APGAR dan bagaimana cara membacanya pada kasus asfiksia?

APGAR adalah penilaian klinis bayi baru lahir atas 5 komponen: Appearance (warna kulit), Pulse (frekuensi jantung), Grimace (respons rangsang), Activity (tonus otot), dan Respiration (usaha napas), masing-masing diberi skor 0-2. Dinilai pada menit ke-1 dan ke-5 (diulang tiap 5 menit bila <7). Nilai 7-10 normal, 4-6 asfiksia ringan-sedang, dan 0-3 asfiksia berat. APGAR dipakai untuk menilai kondisi dan respons resusitasi, bukan sebagai dasar untuk memulai resusitasi.

Apa langkah awal resusitasi neonatus dan apa itu VTP?

Langkah awal (sering disingkat HAIKAP) dilakukan dalam 30 detik pertama: Hangatkan bayi, Atur posisi kepala (semi-ekstensi/sniffing), Isap lendir mulut lalu hidung bila perlu, Keringkan sambil rangsang taktil, lalu Atur ulang Posisi. Jika setelah langkah awal bayi tetap apnea/megap-megap atau frekuensi jantung <100 kali/menit, segera dilakukan VTP (ventilasi tekanan positif) dengan balon-sungkup pada frekuensi 40-60 kali/menit dan dievaluasi setiap 30 detik.

Mengapa pencegahan hipotermia (rantai hangat) penting pada bayi asfiksia?

Bayi baru lahir, terutama yang asfiksia, sangat rentan kehilangan panas melalui evaporasi, konduksi, konveksi, dan radiasi. Hipotermia memperberat hipoksia karena meningkatkan konsumsi oksigen, memicu asidosis metabolik, dan menghambat keberhasilan resusitasi. Karena itu diterapkan rantai hangat: ruang bersalin hangat, segera mengeringkan tubuh dan mengganti kain basah, meletakkan bayi di radiant warmer, kontak kulit-ke-kulit, dan menunda memandikan.

✓ Terakreditasi BAN-PT
✓ LAM-PTKes
✓ Yayasan UKI
✓ 40+ RS Mitra
✓ Sejak 1999