Asuhan Keperawatan (Askep) Hiperbilirubinemia Neonatus (Ikterus Neonatorum)
Pengertian Hiperbilirubinemia Neonatus (Ikterus Neonatorum)
Hiperbilirubinemia neonatus atau ikterus neonatorum adalah kondisi peningkatan kadar bilirubin serum pada bayi baru lahir yang menimbulkan warna kuning pada kulit, sklera, dan mukosa (ikterik). Kondisi ini terjadi karena ketidakseimbangan antara produksi bilirubin yang meningkat (umur eritrosit neonatus lebih pendek) dan kemampuan hati yang belum matang dalam mengonjugasi serta mengekskresi bilirubin. Ikterus dapat bersifat fisiologis (muncul >24 jam, self-limiting) atau patologis (muncul <24 jam, kadar tinggi/naik cepat). Bila kadar bilirubin indirek sangat tinggi dan tidak ditangani, dapat terjadi kernikterus (ensefalopati bilirubin) yang menimbulkan kerusakan otak permanen.
Etiologi (Penyebab)
- Ikterus fisiologis: imaturitas hepar dan enzim UDP-glukuronil transferase sehingga konjugasi bilirubin belum optimal
- Peningkatan produksi bilirubin akibat masa hidup eritrosit neonatus lebih pendek dan jumlah eritrosit yang relatif lebih banyak (polisitemia patologis dapat memperberat)
- Inkompatibilitas golongan darah ibu-bayi (ABO atau Rh) yang menyebabkan hemolisis
- Defisiensi enzim G6PD dan kelainan eritrosit lain (sferositosis) yang mempercepat hemolisis
- Breastfeeding jaundice (asupan ASI kurang/dehidrasi) dan breast milk jaundice
- Faktor lain: prematuritas/BBLR, sefalhematoma, infeksi/sepsis, atresia bilier, hipotiroid, ibu diabetes
Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)
- Ikterik (kulit dan sklera kuning) yang menyebar dari kepala ke arah kaudal sesuai zona Kramer (Kramer I: wajah; V: telapak tangan/kaki)
- Peningkatan kadar bilirubin serum total di atas normal; secara visual ikterus mulai tampak pada TSB di atas sekitar 5 mg/dL, dan tergolong patologis bila TSB tinggi/naik cepat (>0,5 mg/dL/jam)
- Warna urine gelap/pekat dan feses dapat pucat/dempul (pada ikterus obstruktif/patologis)
- Refleks isap melemah, malas menyusu, dan penurunan berat badan
- Letargi, hipotonia, dan bayi tampak lemah
- Tanda lanjut/kernikterus: high-pitched cry, opistotonus (badan melengkung), instabilitas suhu/demam, dan kejang
- Pada hemolisis dapat disertai pucat (anemia) dan hepatosplenomegali
- Ikterus yang muncul <24 jam pertama kehidupan menandakan kemungkinan patologis
Pengkajian Keperawatan
Data yang dikaji perawat pada pasien Hiperbilirubinemia Neonatus (Ikterus Neonatorum):
- Riwayat kehamilan dan persalinan: golongan darah & Rh ibu-bayi, usia gestasi, riwayat ikterus pada anak sebelumnya, trauma lahir (sefalhematoma)
- Usia bayi (dalam jam) saat ikterus muncul untuk membedakan fisiologis vs patologis
- Derajat dan distribusi ikterik secara visual menggunakan zona Kramer (I-V)
- Kadar bilirubin serum total (TSB) dan bilirubin direk/indirek, serta plot terhadap nomogram usia-jam
- Pemeriksaan penunjang: Hb/Ht, hitung retikulosit, golongan darah, Coombs test (direk/indirek), kadar G6PD bila dicurigai
- Status nutrisi & hidrasi: frekuensi & kecukupan menyusu, jumlah popok basah, turgor kulit, berat badan
- Tanda vital, suhu tubuh, dan tanda neurologis (tonus otot, refleks, kualitas tangisan, kesadaran) untuk deteksi dini ensefalopati bilirubin
- Pola eliminasi: warna dan frekuensi urine serta karakteristik feses
Diagnosa & Intervensi Keperawatan
Berikut diagnosa keperawatan utama Hiperbilirubinemia Neonatus (Ikterus Neonatorum) (SDKI) beserta intervensi (SIKI):
1. Ikterik neonatus b.d kesulitan transisi ke kehidupan ekstrauterin (usia <7 hari) d.d kulit dan sklera kuning serta profil darah abnormal (bilirubin serum tinggi)
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: Pantau kadar bilirubin serum total (TSB) berkala dan derajat ikterik secara visual (zona Kramer); kaji faktor risiko (prematuritas/BBLR, inkompatibilitas ABO/Rh, defisiensi G6PD, sefalhematoma)
- Observasi: Pantau tanda awal ensefalopati bilirubin akut/kernikterus (letargi, hipotonia, refleks isap lemah, high-pitched cry, opistotonus, kejang)
- Terapeutik: Lakukan fototerapi sesuai indikasi (berdasarkan nomogram bilirubin terhadap usia-jam, berat badan, dan faktor risiko); ubah posisi bayi tiap 2-3 jam agar paparan sinar merata
- Terapeutik: Lindungi mata bayi dengan penutup mata (eye protector) opaque dan tutup area genital saat fototerapi untuk mencegah cedera retina dan gonad
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian fototerapi intensif/transfusi tukar bila kadar bilirubin mencapai ambang patologis sesuai protokol, serta pemeriksaan golongan darah, Coombs test, dan Hb/Ht
2. Risiko hipovolemia dibuktikan dengan peningkatan kehilangan cairan (insensible water loss) selama fototerapi
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: Pantau status hidrasi (turgor kulit, kelembapan mukosa, ubun-ubun, frekuensi & berat popok basah/output urine, berat badan harian)
- Observasi: Pantau tanda dehidrasi dan keseimbangan cairan; monitor suhu tubuh karena fototerapi meningkatkan insensible water loss dan risiko hipertermia
- Terapeutik: Tingkatkan frekuensi pemberian ASI/minum (on demand, minimal tiap 2-3 jam) untuk mencukupi kebutuhan cairan dan mempercepat ekskresi bilirubin melalui feses dan urine
- Terapeutik: Jaga suhu lingkungan dan suhu inkubator stabil; lanjutkan fototerapi tanpa menghentikan menyusui kecuali ada indikasi
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan tambahan (IV/oral) sesuai indikasi bila intake tidak adekuat atau terdapat tanda dehidrasi
3. Defisit pengetahuan (orang tua) b.d kurang terpapar informasi tentang ikterus neonatorum dan perawatannya d.d orang tua bertanya tentang kondisi bayi
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: Identifikasi kesiapan, tingkat pengetahuan, dan kemampuan orang tua menerima informasi tentang ikterus serta perawatan bayi
- Edukasi: Jelaskan perbedaan ikterus fisiologis (muncul >24 jam, puncak hari ke-3-5, hilang sendiri) dan patologis (muncul <24 jam, TSB tinggi/naik cepat, berlangsung lama) serta tanda bahaya yang harus segera dilaporkan
- Edukasi: Ajarkan teknik menyusui yang benar dan pentingnya ASI adekuat (8-12x/hari) untuk mencegah ikterus dan mempercepat penurunan bilirubin
- Edukasi: Jelaskan tujuan, prosedur, dan keamanan fototerapi (termasuk pelindung mata) sebagai terapi efektif di fasilitas kesehatan, serta tekankan bahwa menjemur bayi di bawah sinar matahari TIDAK dianjurkan karena tidak efektif dan berisiko (sunburn, hipertermia, dehidrasi)
- Edukasi: Anjurkan kontrol/kunjungan ulang untuk pemantauan kadar bilirubin dan tumbuh kembang bayi
Evaluasi Keperawatan
S (subjektif): orang tua menyatakan memahami kondisi dan rutin menyusui bayi; O (objektif): ikterik berkurang (zona Kramer menurun), TSB turun mendekati normal, tanda neurologis baik dan hidrasi adekuat; A (analisis): masalah ikterik neonatus teratasi/teratasi sebagian, risiko kernikterus terkendali; P (perencanaan): lanjutkan fototerapi dan pemantauan bilirubin sesuai protokol hingga target tercapai. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) · Askep Anemia · Daftar Askep Lengkap
Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?
Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Hiperbilirubinemia Neonatus (Ikterus Neonatorum)
Apa perbedaan ikterus fisiologis dan patologis pada neonatus?
Ikterus fisiologis muncul setelah 24 jam (umumnya hari ke-2-3), mencapai puncak hari ke-3-5, kadar bilirubin tidak terlalu tinggi, dan hilang sendiri dalam 1-2 minggu. Ikterus patologis muncul dalam 24 jam pertama, kadar bilirubin naik cepat (>0,5 mg/dL/jam), berlangsung lama (>2 minggu), sering disertai penyebab seperti hemolisis (inkompatibilitas ABO/Rh) atau infeksi.
Mengapa mata dan genital bayi harus ditutup saat fototerapi?
Mata ditutup dengan eye protector opaque untuk melindungi retina dari kerusakan akibat paparan sinar berintensitas tinggi, dan genital ditutup untuk melindungi gonad. Selain itu posisi bayi diubah tiap 2-3 jam agar paparan sinar merata, serta suhu dan hidrasi dipantau karena fototerapi meningkatkan kehilangan cairan tubuh. Penting: menjemur bayi di bawah sinar matahari bukan pengganti fototerapi karena tidak efektif menurunkan bilirubin dan berisiko menyebabkan sunburn, hipertermia, serta dehidrasi.
Apa itu kernikterus dan bagaimana mencegahnya?
Kernikterus adalah kerusakan otak permanen akibat penumpukan bilirubin indirek (tak terkonjugasi) di ganglia basalis, ditandai letargi, refleks isap lemah, high-pitched cry, opistotonus, hingga kejang. Pencegahannya dengan deteksi dini, pemantauan kadar bilirubin, fototerapi tepat waktu sesuai nomogram, pemberian ASI adekuat, dan transfusi tukar bila bilirubin mencapai ambang berbahaya.
