Lewati ke konten utama

Asuhan Keperawatan (Askep) Hiperbilirubinemia Neonatus (Ikterus Neonatorum)

⚕️ Catatan: Konten ini adalah materi edukasi keperawatan untuk pembelajaran mahasiswa & tenaga kesehatan. Bukan pengganti penilaian klinis profesional. Setiap asuhan keperawatan harus disesuaikan dengan kondisi individual pasien.

Pengertian Hiperbilirubinemia Neonatus (Ikterus Neonatorum)

Hiperbilirubinemia neonatus atau ikterus neonatorum adalah kondisi peningkatan kadar bilirubin serum pada bayi baru lahir yang menimbulkan warna kuning pada kulit, sklera, dan mukosa (ikterik). Kondisi ini terjadi karena ketidakseimbangan antara produksi bilirubin yang meningkat (umur eritrosit neonatus lebih pendek) dan kemampuan hati yang belum matang dalam mengonjugasi serta mengekskresi bilirubin. Ikterus dapat bersifat fisiologis (muncul >24 jam, self-limiting) atau patologis (muncul <24 jam, kadar tinggi/naik cepat). Bila kadar bilirubin indirek sangat tinggi dan tidak ditangani, dapat terjadi kernikterus (ensefalopati bilirubin) yang menimbulkan kerusakan otak permanen.

Etiologi (Penyebab)

Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)

Pengkajian Keperawatan

Data yang dikaji perawat pada pasien Hiperbilirubinemia Neonatus (Ikterus Neonatorum):

Diagnosa & Intervensi Keperawatan

Berikut diagnosa keperawatan utama Hiperbilirubinemia Neonatus (Ikterus Neonatorum) (SDKI) beserta intervensi (SIKI):

1. Ikterik neonatus b.d kesulitan transisi ke kehidupan ekstrauterin (usia <7 hari) d.d kulit dan sklera kuning serta profil darah abnormal (bilirubin serum tinggi)

Intervensi Keperawatan:

2. Risiko hipovolemia dibuktikan dengan peningkatan kehilangan cairan (insensible water loss) selama fototerapi

Intervensi Keperawatan:

3. Defisit pengetahuan (orang tua) b.d kurang terpapar informasi tentang ikterus neonatorum dan perawatannya d.d orang tua bertanya tentang kondisi bayi

Intervensi Keperawatan:

Evaluasi Keperawatan

S (subjektif): orang tua menyatakan memahami kondisi dan rutin menyusui bayi; O (objektif): ikterik berkurang (zona Kramer menurun), TSB turun mendekati normal, tanda neurologis baik dan hidrasi adekuat; A (analisis): masalah ikterik neonatus teratasi/teratasi sebagian, risiko kernikterus terkendali; P (perencanaan): lanjutkan fototerapi dan pemantauan bilirubin sesuai protokol hingga target tercapai. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.

Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) · Askep Anemia · Daftar Askep Lengkap

Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?

Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.

📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3

Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Hiperbilirubinemia Neonatus (Ikterus Neonatorum)

Apa perbedaan ikterus fisiologis dan patologis pada neonatus?

Ikterus fisiologis muncul setelah 24 jam (umumnya hari ke-2-3), mencapai puncak hari ke-3-5, kadar bilirubin tidak terlalu tinggi, dan hilang sendiri dalam 1-2 minggu. Ikterus patologis muncul dalam 24 jam pertama, kadar bilirubin naik cepat (>0,5 mg/dL/jam), berlangsung lama (>2 minggu), sering disertai penyebab seperti hemolisis (inkompatibilitas ABO/Rh) atau infeksi.

Mengapa mata dan genital bayi harus ditutup saat fototerapi?

Mata ditutup dengan eye protector opaque untuk melindungi retina dari kerusakan akibat paparan sinar berintensitas tinggi, dan genital ditutup untuk melindungi gonad. Selain itu posisi bayi diubah tiap 2-3 jam agar paparan sinar merata, serta suhu dan hidrasi dipantau karena fototerapi meningkatkan kehilangan cairan tubuh. Penting: menjemur bayi di bawah sinar matahari bukan pengganti fototerapi karena tidak efektif menurunkan bilirubin dan berisiko menyebabkan sunburn, hipertermia, serta dehidrasi.

Apa itu kernikterus dan bagaimana mencegahnya?

Kernikterus adalah kerusakan otak permanen akibat penumpukan bilirubin indirek (tak terkonjugasi) di ganglia basalis, ditandai letargi, refleks isap lemah, high-pitched cry, opistotonus, hingga kejang. Pencegahannya dengan deteksi dini, pemantauan kadar bilirubin, fototerapi tepat waktu sesuai nomogram, pemberian ASI adekuat, dan transfusi tukar bila bilirubin mencapai ambang berbahaya.

✓ Terakreditasi BAN-PT
✓ LAM-PTKes
✓ Yayasan UKI
✓ 40+ RS Mitra
✓ Sejak 1999