Asuhan Keperawatan (Askep) Meningitis
Pengertian Meningitis
Meningitis adalah proses inflamasi pada selaput pembungkus otak dan medula spinalis (meningen), terutama lapisan arachnoid dan piamater serta cairan serebrospinal (CSS) di dalam ruang subarachnoid. Inflamasi ini umumnya disebabkan infeksi bakteri, virus, jamur, atau tuberkulosis, namun dapat pula bersifat non-infeksi (kimiawi/akibat obat). Respons inflamasi memicu peningkatan permeabilitas sawar darah-otak, edema serebral, dan gangguan aliran CSS yang berisiko meningkatkan tekanan intrakranial (TIK). Meningitis bakterial merupakan kegawatdaruratan medis karena dapat berkembang cepat menjadi sepsis, kejang, penurunan kesadaran, hingga kematian, sehingga diagnosis dan terapi dini sangat menentukan prognosis.
Etiologi (Penyebab)
- Bakteri: Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae tipe b; pada neonatus Streptococcus grup B, Escherichia coli, dan Listeria monocytogenes
- Virus (meningitis aseptik): enterovirus (Coxsackie, Echovirus), herpes simpleks virus, mumps, varicella
- Mycobacterium tuberculosis (meningitis TB) dan jamur (Cryptococcus neoformans, terutama pada imunokompromais/HIV)
- Penyebaran infeksi langsung dari fokus dekat (otitis media, sinusitis, mastoiditis) atau penyebaran hematogen dari fokus jauh
- Trauma kepala terbuka, fraktur basis kranii dengan kebocoran CSS, atau pasca prosedur bedah saraf/lumbal
- Faktor risiko: usia ekstrem (bayi, lansia), imunosupresi, belum imunisasi, dan hunian padat (asrama/barak)
Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)
- Trias klasik: demam tinggi (sering >38,5 derajat C), nyeri kepala hebat, dan kaku kuduk (rigiditas nukal)
- Tanda rangsang meningeal positif: kaku kuduk, tanda Kernig (nyeri/tahanan saat tungkai diluruskan pada lutut sementara panggul difleksikan 90 derajat), dan tanda Brudzinski (fleksi panggul-lutut involunter saat leher difleksikan)
- Fotofobia dan fonofobia, mual dan muntah (sering proyektil)
- Penurunan kesadaran progresif, gelisah, iritabel, hingga letargi atau koma
- Kejang dan tanda peningkatan TIK (muntah proyektil, papiledema, trias Cushing pada fase lanjut)
- Ruam petekie/purpura pada meningitis meningokokus (waspadai kulit pucat/mottled atau teraba dingin sebagai tanda syok pada meningokokemia)
- Pada bayi: ubun-ubun (fontanel) menonjol, tangisan melengking (high-pitched cry), malas menyusu, dan hipotonia; tanda meningeal sering tidak khas
- Demam umumnya disertai takikardia dan kulit teraba hangat (gambaran respons demam, bukan tanda spesifik meningitis)
Pengkajian Keperawatan
Data yang dikaji perawat pada pasien Meningitis:
- Riwayat kesehatan: awitan dan progresivitas gejala, riwayat infeksi (ISPA, otitis, sinusitis), trauma kepala, status imunisasi, kontak dengan penderita, dan riwayat imunosupresi/HIV
- Tanda vital lengkap: suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah; waspadai trias Cushing (bradikardia, hipertensi/tekanan nadi melebar, pernapasan ireguler) sebagai tanda peningkatan TIK
- Status neurologis: tingkat kesadaran dengan GCS, ukuran dan reaksi pupil, kekuatan dan tonus motorik, serta defisit neurologis fokal
- Pemeriksaan tanda rangsang meningeal: kaku kuduk, tanda Kernig, dan tanda Brudzinski I-II
- Karakteristik nyeri kepala (PQRST) dan ada-tidaknya fotofobia, mual, muntah, serta riwayat kejang
- Status cairan dan nutrisi: turgor kulit, kelembapan mukosa, intake-output cairan, dan tanda dehidrasi
- Inspeksi kulit untuk ruam petekie/purpura; pada bayi periksa fontanel, pola tangis, dan kemampuan menyusu
- Hasil penunjang: analisis CSS dari pungsi lumbal (jumlah sel, protein, glukosa, kultur/Gram), darah lengkap, kultur darah, CRP/prokalsitonin, dan pencitraan kepala (CT/MRI) bila ada indikasi
Diagnosa & Intervensi Keperawatan
Berikut diagnosa keperawatan utama Meningitis (SDKI) beserta intervensi (SIKI):
1. Hipertermia b.d proses penyakit (infeksi/inflamasi meningen) d.d suhu tubuh di atas 38,5 derajat C, kulit teraba hangat, dan takikardia
Intervensi Keperawatan:
- Monitor suhu tubuh secara berkala (tiap 2-4 jam) beserta tanda vital lain (nadi, pernapasan, tekanan darah)
- Identifikasi penyebab hipertermia dan monitor tanda dehidrasi (turgor kulit, kelembapan mukosa, output urine)
- Lakukan kompres hangat pada area lipatan tubuh (aksila, lipat paha), longgarkan pakaian, dan atur suhu lingkungan yang nyaman
- Anjurkan tirah baring dan berikan/tingkatkan asupan cairan sesuai indikasi dan tingkat kesadaran (hindari cairan oral bila kesadaran menurun atau muntah karena risiko aspirasi)
- Kolaborasi pemberian antipiretik, cairan intravena, serta antibiotik/antiviral sesuai program terapi
2. Risiko perfusi serebral tidak efektif b.d edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial akibat proses inflamasi meningen
Intervensi Keperawatan:
- Monitor tanda peningkatan TIK: penurunan kesadaran, nyeri kepala hebat, muntah proyektil, dan trias Cushing (bradikardia, hipertensi/tekanan nadi melebar, pola napas ireguler)
- Monitor status neurologis secara ketat: GCS, ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik, serta tanda rangsang meningeal
- Posisikan kepala elevasi 15-30 derajat dengan leher dalam posisi netral (hindari fleksi/rotasi) untuk melancarkan drainase vena serebral
- Pertahankan lingkungan tenang dengan pencahayaan redup, minimalkan stimulus/prosedur yang memprovokasi peningkatan TIK (suction berlebihan, mengejan), serta antisipasi kejang dengan menyiapkan oksigen, suction, dan pengaman tempat tidur
- Kolaborasi pemberian terapi (osmotik diuretik seperti manitol, kortikosteroid, antikonvulsan) dan pantau hasil pemeriksaan penunjang
3. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis (iritasi/inflamasi selaput meningen) d.d mengeluh nyeri kepala, tampak meringis, kaku kuduk, dan fotofobia
Intervensi Keperawatan:
- Identifikasi karakteristik nyeri secara komprehensif (PQRST: lokasi, kualitas, skala, durasi, dan faktor pencetus)
- Monitor tanda vital dan respons nonverbal terhadap nyeri (ekspresi wajah, gelisah, perubahan pola napas)
- Sediakan lingkungan yang nyaman dengan pencahayaan redup dan kebisingan minimal untuk mengurangi fotofobia serta pemicu nyeri kepala
- Ajarkan teknik relaksasi nonfarmakologis (napas dalam) dan atur posisi nyaman dengan membatasi pergerakan kepala dan leher
- Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program dan evaluasi efektivitasnya terhadap skala nyeri
Evaluasi Keperawatan
S: pasien menyatakan nyeri kepala berkurang dan badan terasa lebih nyaman; O: suhu turun menuju rentang normal (36,5-37,5 derajat C), GCS stabil 15, tanda rangsang meningeal berkurang, skala nyeri menurun, tidak ada tanda peningkatan TIK; A: masalah hipertermia, nyeri akut, dan risiko perfusi serebral tidak efektif teratasi sebagian; P: lanjutkan monitoring suhu, status neurologis, dan terapi antibiotik/antiviral sesuai program. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep Kejang Demam Anak · Askep Stroke · Askep HIV/AIDS · Daftar Askep Lengkap
Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?
Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Meningitis
Apa perbedaan tanda Kernig dan Brudzinski pada meningitis?
Keduanya adalah tanda rangsang meningeal. Tanda Kernig positif bila timbul nyeri atau tahanan saat tungkai diluruskan pada lutut sementara panggul difleksikan 90 derajat. Tanda Brudzinski positif bila fleksi pasif pada leher memicu fleksi involunter pada panggul dan lutut. Keduanya menandakan iritasi meningen.
Mengapa pungsi lumbal penting dan kapan ditunda?
Pungsi lumbal mengambil sampel cairan serebrospinal untuk memastikan diagnosis dan jenis penyebab (analisis sel, protein, glukosa, kultur/Gram). Pemeriksaan ini ditunda dan didahului CT kepala bila ada tanda peningkatan TIK berat, defisit neurologis fokal, atau gangguan pembekuan darah, karena berisiko menyebabkan herniasi otak.
Apa prioritas keperawatan utama pada pasien meningitis?
Prioritasnya adalah menjaga jalan napas dan oksigenasi, menurunkan suhu, mencegah serta mendeteksi dini peningkatan TIK dan kejang melalui pemantauan neurologis ketat, mengatasi nyeri, mempertahankan keseimbangan cairan, dan memastikan terapi antibiotik/antiviral diberikan tepat waktu. Pada kasus bakterial (terutama meningokokus) juga diterapkan kewaspadaan isolasi droplet.
