Suction (Penghisapan Lendir): Prosedur & Langkah-Langkah
Pengertian Suction (Penghisapan Lendir)
Suction (penghisapan lendir) adalah tindakan mengeluarkan sekret atau lendir dari jalan napas (oral, nasofaring, orofaring, trakea, atau melalui selang endotrakeal/trakeostomi) menggunakan kateter penghisap yang dihubungkan ke mesin suction. Tindakan ini dilakukan pada pasien yang tidak mampu mengeluarkan sekret secara mandiri akibat penurunan kesadaran, refleks batuk lemah, atau terpasang alat bantu napas. Tujuannya mempertahankan kepatenan jalan napas dan mencegah hipoksia, namun harus dikerjakan dengan teknik steril, tekanan terkontrol, dan durasi singkat karena berisiko menimbulkan hipoksemia, trauma mukosa, perdarahan, bradikardia, dan aritmia.
Tujuan
- Membebaskan dan mempertahankan kepatenan jalan napas dari sekret/lendir
- Meningkatkan ventilasi dan oksigenasi serta mencegah hipoksia
- Mencegah atelektasis dan infeksi saluran napas akibat penumpukan sekret
- Mengambil sampel sekret untuk pemeriksaan laboratorium bila diperlukan
- Membantu pasien yang tidak mampu batuk efektif untuk mengeluarkan sekret
Indikasi
- Penumpukan sekret yang terdengar (ronki/gurgling) atau tampak pada jalan napas
- Pasien tidak mampu batuk efektif atau refleks batuk lemah/hilang
- Penurunan kesadaran dengan akumulasi sekret di orofaring
- Pasien terpasang selang endotrakeal (ETT) atau trakeostomi
- Tanda distres napas: gelisah, sianosis, penurunan SpO2, frekuensi napas meningkat
- Suara napas tidak efektif disertai bunyi sekret saat auskultasi
Persiapan Alat
- Mesin suction (portabel/dinding) yang berfungsi, beserta selang penghubung
- Kateter suction steril ukuran sesuai (dewasa 12-18 Fr, anak 8-10 Fr, bayi 6-8 Fr); diameter kateter idealnya tidak lebih dari setengah diameter dalam ETT bila menyuction via ETT
- Sarung tangan steril dan sarung tangan bersih
- Cairan NaCl 0,9% steril atau aquades steril dalam wadah untuk MEMBILAS kateter (bukan untuk instilasi rutin ke trakea)
- Kom/wadah steril berisi cairan pembilas
- Sumber oksigen, ambu bag/bag-valve-mask untuk hiperoksigenasi
- Pulse oximeter untuk memantau SpO2 (dan monitor EKG bila pasien kritis)
- Pelumas larut air (untuk suction nasal), pinset/cucing steril
- Bengkok, perlak/pengalas, dan tisu
- APD: masker, pelindung mata/face shield, dan apron
- Stetoskop untuk auskultasi sebelum dan sesudah tindakan
Prosedur & Langkah-Langkah
- Verifikasi instruksi/indikasi, identifikasi pasien dengan dua identitas, dan jelaskan tujuan serta prosedur kepada pasien/keluarga untuk memperoleh persetujuan dan kerja sama
- Lakukan kebersihan tangan dengan 6 langkah dan pakai APD (masker, pelindung mata, apron)
- Dekatkan dan susun alat; pasang pulse oximeter, lalu kaji SpO2, suara napas, frekuensi napas, dan irama jantung sebagai data awal
- Atur posisi pasien: semi-Fowler (sadar) atau posisi lateral/kepala miring ke perawat (tidak sadar); pasang pengalas di dada/leher
- Nyalakan mesin suction dan atur tekanan negatif sesuai usia: dewasa 100-150 mmHg, anak 80-120 mmHg, bayi 80-100 mmHg, neonatus 60-100 mmHg (uji dengan menutup ujung selang)
- Lakukan hiperoksigenasi/preoksigenasi dengan oksigen 100% atau napas dalam selama 30-60 detik sebelum penghisapan untuk mencegah hipoksia
- Lakukan kebersihan tangan, buka kemasan kateter steril secara aseptik, pasang sarung tangan steril, dan sambungkan kateter ke selang suction tanpa mengontaminasi ujungnya
- Perkirakan kedalaman insersi yang aman: untuk naso/orofaring sepanjang jarak ujung hidung/mulut ke daun telinga; untuk ETT/trakeostomi gunakan teknik shallow yaitu hanya sepanjang ETT/kanul (atau sedikit melewatinya) atau sampai timbul refleks batuk/teraba tahanan, JANGAN mendorong sampai membentur karina; basahi/bilas kateter dengan NaCl steril
- Masukkan kateter dengan lembut TANPA mengaktifkan hisapan (lubang kontrol terbuka) hingga kedalaman aman yang ditentukan atau sampai timbul refleks batuk/tahanan ringan; jangan memaksa bila ada tahanan, dan bila menyentuh karina/tahanan tarik kembali sekitar 1 cm sebelum menghisap
- Aktifkan hisapan HANYA saat menarik kateter sambil memutar perlahan; satu kali hisap maksimal 10-15 detik (idealnya <=10 detik saat hisapan aktif) untuk mencegah hipoksia dan trauma
- Tarik kateter sepenuhnya, lalu berikan oksigenasi dan biarkan pasien pulih/bernapas minimal 30 detik sampai 1 menit hingga SpO2 dan frekuensi nadi kembali ke baseline; pantau SpO2 dan irama jantung terhadap tanda aritmia/bradikardia
- Bilas kateter dengan NaCl steril; bila sekret masih ada, ulangi penghisapan dengan jeda reoksigenasi yang cukup, total tidak lebih dari 3 kali siklus
- Lakukan hiperoksigenasi pasca-penghisapan dan kembalikan pemberian oksigen ke setelan semula; auskultasi suara napas untuk menilai keberhasilan
- Buang kateter dan sarung tangan secara aman (satu kateter sekali pakai), matikan mesin suction, rapikan pasien ke posisi nyaman, dan bereskan alat
- Lepas APD dan lakukan kebersihan tangan
- Dokumentasikan waktu tindakan, jumlah/warna/konsistensi sekret, tekanan suction, SpO2 dan irama jantung sebelum-sesudah, respons pasien, dan laporkan temuan abnormal kepada penanggung jawab
Hal yang Perlu Diperhatikan
- Hisapan diaktifkan HANYA saat menarik kateter, bukan saat memasukkan, untuk mencegah trauma mukosa dan hipoksia
- Batasi setiap kali hisap maksimal 10-15 detik (idealnya <=10 detik saat hisapan aktif) dan total maksimal 3 siklus dengan jeda reoksigenasi minimal 30 detik sampai 1 menit hingga SpO2/HR kembali baseline
- Patuhi tekanan negatif sesuai usia (dewasa 100-150, anak 80-120, bayi 80-100, neonatus 60-100 mmHg); tekanan berlebih merusak mukosa, menimbulkan perdarahan, dan dapat menyebabkan kolaps/atelektasis
- Jangan mendorong kateter terlalu dalam sampai membentur karina; gunakan teknik shallow pada ETT/trakeostomi dan jangan instilasi NaCl rutin ke trakea karena dapat menurunkan SpO2 dan menyebarkan kuman
- Selalu hiperoksigenasi sebelum dan sesudah penghisapan; pantau SpO2 dan irama jantung, hentikan segera bila SpO2 turun drastis, terjadi bradikardia/aritmia, atau sianosis
- Hindari suction nasotrakeal pada kecurigaan fraktur basis kranii/trauma maksilofasial dan epistaksis; hati-hati pada gangguan koagulasi dan peningkatan TIK; pertahankan teknik steril terutama pada suction trakea/ETT untuk mencegah VAP, dan jangan memakai ulang kateter yang sudah dipakai
Lihat juga: Terapi Oksigen · Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) · Tanda-Tanda Vital (TTV) · Daftar Tindakan Keperawatan · Contoh Askep
Mau Terampil Tindakan Keperawatan?
Latih skill klinis di lab modern + praktik 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ)
Berapa lama waktu maksimal satu kali penghisapan dan mengapa dibatasi?
Satu kali penghisapan maksimal 10-15 detik, dan idealnya hisapan aktif tidak lebih dari 10 detik. Selama disuction, oksigen ikut tersedot bersama sekret sehingga durasi yang lama menyebabkan hipoksia, bradikardia, dan aritmia. Karena itu setiap siklus dibatasi singkat dan diberi jeda reoksigenasi (minimal 30 detik sampai 1 menit) sebelum diulang.
Berapa tekanan suction yang tepat berdasarkan usia?
Tekanan negatif disesuaikan dengan usia: dewasa 100-150 mmHg, anak 80-120 mmHg, bayi 80-100 mmHg, dan neonatus 60-100 mmHg. Tekanan yang terlalu tinggi dapat melukai mukosa jalan napas, menyebabkan perdarahan, hipoksia, dan kolaps/atelektasis, sehingga harus selalu diuji dan diatur sebelum kateter dimasukkan.
Kapan hisapan dinyalakan, saat memasukkan atau menarik kateter?
Hisapan dinyalakan HANYA saat menarik kateter sambil memutarnya perlahan. Saat memasukkan kateter, lubang kontrol dibiarkan terbuka (hisapan tidak aktif) agar tidak melukai mukosa dan tidak menyedot oksigen dari jalan napas sebelum mencapai sekret. Kateter juga tidak boleh didorong sampai membentur karina.
