Asuhan Keperawatan (Askep) HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immunodeficiency Syndrome)
Pengertian HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immunodeficiency Syndrome)
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah retrovirus golongan lentivirus yang menginfeksi dan menghancurkan sel limfosit T helper (CD4+), makrofag, dan sel dendritik, sehingga secara progresif menurunkan fungsi sistem imun seluler. Penurunan jumlah CD4 membuat tubuh rentan terhadap infeksi oportunistik dan keganasan. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan stadium klinis paling lanjut dari infeksi HIV yang ditegakkan ketika jumlah CD4 turun di bawah 200 sel/mm3 dan/atau muncul satu atau lebih penyakit penanda AIDS (AIDS-defining illness) seperti TB ekstraparu, kandidiasis esofagus, atau Pneumocystis jirovecii pneumonia. Infeksi HIV bersifat kronis dan belum dapat disembuhkan, namun dengan terapi antiretroviral (ARV) yang teratur dan kepatuhan tinggi, replikasi virus dapat ditekan sampai tidak terdeteksi sehingga harapan hidup mendekati populasi umum.
Etiologi (Penyebab)
- Infeksi virus HIV-1 (paling umum di dunia) atau HIV-2 yang menginfeksi sel CD4+
- Transmisi seksual: hubungan seksual tanpa kondom (anal, vaginal) dengan orang terinfeksi HIV
- Transmisi melalui darah: berbagi jarum suntik pada pengguna NAPZA suntik, transfusi darah/produk darah terkontaminasi, kecelakaan tertusuk jarum (occupational exposure)
- Transmisi vertikal (perinatal): dari ibu ke bayi saat kehamilan, persalinan, atau menyusui (ASI)
- Faktor risiko: berganti pasangan seksual, riwayat infeksi menular seksual (IMS) lain, laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), pekerja seks
- Belum/tidak adanya profilaksis pra-pajanan (PrEP) pada populasi berisiko tinggi
Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)
- Fase akut (serokonversi): demam, nyeri tenggorokan, ruam, mialgia, dan limfadenopati mirip flu 2-4 minggu pasca infeksi
- Fase laten klinis: asimtomatik atau limfadenopati generalisata persisten, dapat berlangsung bertahun-tahun
- Penurunan berat badan signifikan (>10%) tanpa sebab jelas (wasting syndrome)
- Demam berkepanjangan >1 bulan, keringat malam, dan diare kronis >1 bulan
- Kandidiasis oral (oral thrush) dan kandidiasis esofagus (nyeri/sulit menelan)
- Infeksi oportunistik: TB paru/ekstraparu, Pneumocystis jirovecii pneumonia (PCP), toksoplasmosis serebral, kriptokokus
- Manifestasi kulit: dermatitis seboroik, herpes zoster, sarkoma Kaposi
- Stadium lanjut: anemia, trombositopenia, gangguan neurologis, dan keganasan terkait HIV
Pengkajian Keperawatan
Data yang dikaji perawat pada pasien HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immunodeficiency Syndrome):
- Riwayat faktor risiko: aktivitas seksual, penggunaan NAPZA suntik, riwayat transfusi, status pasangan, riwayat IMS
- Hasil laboratorium: tes serologi HIV (rapid test/ELISA, konfirmasi), jumlah CD4 (sel/mm3), viral load (kopi/mL), darah lengkap (Hb, leukosit, trombosit)
- Tanda vital dan status demam, berat badan serta perubahan/penurunan BB, indeks massa tubuh
- Status nutrisi: pola makan, mual/muntah, kondisi rongga mulut (kandidiasis, sariawan), kemampuan menelan
- Tanda dan gejala infeksi oportunistik: batuk, sesak, diare, lesi kulit, gangguan neurologis
- Status terapi ARV: regimen, lama terapi, tingkat kepatuhan, efek samping, hambatan kepatuhan
- Kondisi psikososial: tingkat ansietas/depresi, persepsi terhadap penyakit, pengalaman stigma dan diskriminasi
- Sistem dukungan: keluarga, pasangan, status disclosure, dukungan komunitas, akses layanan kesehatan
Diagnosa & Intervensi Keperawatan
Berikut diagnosa keperawatan utama HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immunodeficiency Syndrome) (SDKI) beserta intervensi (SIKI):
1. Risiko infeksi b.d penurunan imunitas (penurunan jumlah CD4) dan supresi respons inflamasi
Intervensi Keperawatan:
- Monitor tanda dan gejala infeksi lokal maupun sistemik (demam, batuk, lesi kulit, diare) serta pantau hasil CD4 dan tanda vital secara berkala
- Batasi jumlah pengunjung dan terapkan kewaspadaan standar serta cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
- Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif dan rawat kebersihan kulit, rongga mulut, serta lingkungan pasien
- Ajarkan pasien dan keluarga tanda dini infeksi, etika batuk, kebersihan diri, dan cara menghindari paparan sumber infeksi
- Kolaborasi pemberian profilaksis infeksi oportunistik (mis. kotrimoksazol untuk PCP) dan vaksinasi sesuai indikasi
2. Defisit nutrisi b.d peningkatan kebutuhan metabolik, mual, dan gangguan absorpsi d.d penurunan berat badan dan kandidiasis oral
Intervensi Keperawatan:
- Identifikasi status nutrisi, monitor asupan makanan, serta keluhan mual, muntah, dan nyeri menelan
- Timbang berat badan secara berkala dan pantau hasil laboratorium terkait nutrisi (albumin, Hb)
- Sajikan makanan tinggi kalori tinggi protein dalam porsi kecil tapi sering dan jaga kebersihan rongga mulut sebelum makan
- Edukasi pasien dan keluarga tentang diet seimbang, keamanan pangan (food safety), dan pentingnya hidrasi adekuat
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet/suplemen serta pemberian antiemetik dan antijamur oral sesuai indikasi
3. Ketidakpatuhan b.d kompleksitas regimen terapi, efek samping ARV, dan stigma d.d viral load tidak tersupresi
Intervensi Keperawatan:
- Identifikasi tingkat kepatuhan, hambatan minum ARV, pemahaman pasien, dan efek samping yang dialami
- Bangun hubungan terapeutik dan dukung pasien menyusun jadwal minum obat menggunakan alat bantu (pengingat/alarm, pill box)
- Libatkan keluarga/pendamping minum obat (PMO) dan beri dukungan psikososial untuk mengatasi stigma
- Edukasi tentang manfaat ARV, konsep undetectable = untransmittable (U=U), serta risiko resistensi bila putus obat
- Kolaborasi dengan tim (dokter, konselor, kelompok dukungan sebaya) untuk pemantauan viral load dan penyesuaian regimen
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi didokumentasikan dengan format SOAP, contoh: S: pasien menyatakan memahami jadwal dan manfaat ARV serta tidak ada keluhan demam; O: suhu 36,8 C, tidak tampak tanda infeksi baru, berat badan naik 0,5 kg, pasien meminum ARV teratur; A: masalah risiko infeksi dan defisit nutrisi teratasi sebagian, kepatuhan meningkat; P: lanjutkan intervensi pemantauan infeksi, dukungan nutrisi, dan penguatan kepatuhan ARV. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep TB Paru · Askep Ansietas (Kecemasan) · Askep Harga Diri Rendah · Daftar Askep Lengkap
Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?
Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ) Askep HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immunodeficiency Syndrome)
Apa perbedaan HIV dan AIDS?
HIV adalah virus yang menyerang sel CD4 sistem imun, sedangkan AIDS adalah stadium akhir infeksi HIV yang ditandai jumlah CD4 di bawah 200 sel/mm3 dan/atau munculnya infeksi oportunistik. Tidak semua orang dengan HIV mencapai tahap AIDS, terutama bila rutin minum ARV dengan kepatuhan tinggi.
Mengapa kepatuhan ARV sangat penting dalam asuhan keperawatan HIV?
ARV menekan replikasi virus sehingga viral load menjadi tidak terdeteksi, memulihkan imunitas, dan mencegah penularan (konsep U=U: undetectable = untransmittable). Kepatuhan yang buruk menyebabkan virus kembali aktif, resistensi obat, dan progresi ke AIDS, sehingga edukasi dan pendampingan kepatuhan menjadi inti intervensi keperawatan.
Apa diagnosa keperawatan utama pada pasien HIV/AIDS?
Tiga diagnosa SDKI yang paling relevan adalah Risiko infeksi (akibat penurunan CD4), Defisit nutrisi (akibat hipermetabolisme dan gangguan asupan), serta Ketidakpatuhan terhadap regimen ARV. Diagnosa lain yang sering muncul meliputi ansietas, harga diri rendah akibat stigma, dan diare kronis.
