Asuhan Keperawatan (Askep) Kanker Serviks (Ca Cervix)
Pengertian Kanker Serviks (Ca Cervix)
Kanker serviks (Ca cervix) adalah pertumbuhan sel ganas pada epitel leher rahim (serviks uteri), yaitu bagian bawah rahim yang menghubungkan korpus uteri dengan vagina. Mayoritas kasus (sekitar 90-95%) berjenis karsinoma sel skuamosa yang berasal dari zona transformasi (sambungan skuamokolumnar), sisanya adenokarsinoma. Penyakit ini berkembang lambat melalui lesi prakanker (displasia/CIN — Cervical Intraepithelial Neoplasia) yang dapat terdeteksi melalui skrining IVA atau Pap smear sebelum menjadi invasif. Hampir seluruh kasus berkaitan dengan infeksi Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi yang persisten. Kanker serviks merupakan salah satu kanker tersering pada perempuan Indonesia dan menjadi penyebab kematian akibat kanker yang tinggi karena banyak terdiagnosis pada stadium lanjut.
Etiologi (Penyebab)
- Infeksi HPV (Human Papillomavirus) risiko tinggi yang persisten, terutama tipe 16 dan 18 yang menyebabkan ~70% kasus — merupakan penyebab utama
- Hubungan seksual usia dini (<20 tahun) dan berganti-ganti pasangan seksual atau pasangan dengan banyak pasangan
- Multiparitas (banyak melahirkan) dan riwayat kehamilan usia muda
- Merokok aktif maupun pasif (zat karsinogen menurunkan imunitas lokal serviks)
- Imunosupresi, termasuk koinfeksi HIV/AIDS dan penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang
- Infeksi menular seksual penyerta (Chlamydia, herpes simpleks) serta higiene genital yang buruk; tidak pernah mengikuti skrining IVA/Pap smear
Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)
- Perdarahan pervaginam abnormal: perdarahan pasca-senggama (kontak), perdarahan di luar siklus haid, atau perdarahan pascamenopause
- Keputihan (fluor albus) abnormal: encer, berbau busuk, kadang bercampur darah
- Nyeri panggul, nyeri pinggang/punggung bawah, atau nyeri saat berhubungan (dispareunia)
- Nyeri kronis di perut bagian bawah seiring perkembangan tumor
- Pada stadium lanjut: gangguan berkemih (hematuria, retensi), gangguan defekasi/konstipasi, atau fistula vesikovaginal/rektovaginal
- Edema tungkai akibat penekanan/obstruksi limfatik dan pembuluh darah
- Penurunan berat badan, anemia, dan keletihan (fatigue) pada penyakit lanjut
- Gejala metastasis: nyeri tulang, sesak napas, atau gangguan fungsi ginjal akibat obstruksi ureter (hidronefrosis)
Pengkajian Keperawatan
Data yang dikaji perawat pada pasien Kanker Serviks (Ca Cervix):
- Riwayat kesehatan reproduksi: usia menarche, paritas, usia pertama berhubungan seksual, jumlah pasangan, riwayat IMS, dan riwayat skrining IVA/Pap smear
- Karakteristik perdarahan pervaginam: jumlah, frekuensi, pencetus (kontak/spontan), serta karakteristik keputihan (warna, bau, konsistensi)
- Pengkajian nyeri komprehensif (PQRST): lokasi, kualitas, skala nyeri (mis. NRS 0-10), durasi, dan faktor pemberat/pereda
- Status nutrisi dan tanda anemia: berat badan, IMT, konjungtiva pucat, kadar Hb, serta tanda keletihan
- Hasil pemeriksaan penunjang: hasil biopsi/PA, stadium FIGO, IVA/Pap smear, USG, CT/MRI, dan kadar Hb/leukosit/trombosit
- Status psikologis dan citra tubuh: tingkat ansietas, persepsi terhadap penyakit, perubahan peran seksual dan feminitas, serta tanda depresi
- Tanda vital, balans cairan, dan fungsi eliminasi (BAK/BAB) untuk mendeteksi penekanan organ sekitar
- Pengkajian efek samping terapi (kemoterapi/radiasi): mual-muntah, mukositis, diare radiasi, kerusakan kulit area radiasi, dan supresi sumsum tulang
Diagnosa & Intervensi Keperawatan
Berikut diagnosa keperawatan utama Kanker Serviks (Ca Cervix) (SDKI) beserta intervensi (SIKI):
1. Nyeri kronis b.d infiltrasi tumor pada jaringan serviks dan organ panggul d.d klien mengeluh nyeri menetap, skala nyeri meningkat, dan wajah meringis
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan skala nyeri secara berkala (mis. NRS) serta respons nyeri nonverbal
- Observasi: identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri serta pengaruh nyeri terhadap kualitas hidup dan tidur
- Terapeutik: berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (relaksasi napas dalam, distraksi, kompres, pengaturan posisi nyaman)
- Edukasi: jelaskan strategi meredakan nyeri dan ajarkan teknik manajemen nyeri mandiri kepada klien dan keluarga
- Kolaborasi: pemberian analgesik sesuai tangga analgesik WHO (termasuk opioid bila perlu) dan evaluasi efektivitasnya
2. Ansietas b.d ancaman terhadap kematian dan ketidakpastian prognosis penyakit d.d klien tampak gelisah, tegang, dan mengungkapkan kekhawatiran akan kondisinya
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: identifikasi tingkat ansietas, tanda verbal/nonverbal, serta kemampuan mengambil keputusan
- Terapeutik: ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan, temani klien, dan dengarkan keluhan dengan penuh perhatian
- Terapeutik: gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan serta libatkan keluarga sebagai sistem pendukung
- Edukasi: jelaskan prosedur, diagnosis, dan rencana pengobatan (kemoradiasi) secara jujur sesuai kebutuhan; latih teknik relaksasi dan distraksi
- Kolaborasi: rujuk untuk konseling/dukungan spiritual atau pemberian terapi antiansietas bila diperlukan
3. Gangguan citra tubuh b.d perubahan fungsi tubuh akibat penyakit dan efek terapi (perubahan fungsi seksual, efek radiasi) d.d klien mengungkapkan perasaan negatif tentang tubuh dan menolak melihat/menyentuh area yang berubah
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: identifikasi persepsi klien terhadap perubahan citra tubuh, harapan, dan budaya/keyakinan yang memengaruhinya
- Terapeutik: diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya secara terbuka serta fasilitasi pengungkapan perasaan tanpa menghakimi
- Terapeutik: fasilitasi interaksi dengan kelompok sebaya (support group) dan libatkan pasangan dalam diskusi adaptasi
- Edukasi: jelaskan kepada klien dan keluarga tentang perawatan perubahan tubuh, perubahan fungsi seksual, dan cara adaptasi
- Kolaborasi: rujuk ke konselor, psikolog, atau layanan rehabilitasi seksual sesuai kebutuhan
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi dicatat dalam format SOAP: data Subjektif (mis. klien melaporkan skala nyeri turun dari 7 menjadi 3 dan ansietas berkurang) dan Objektif (mis. wajah tampak rileks, TTV stabil, klien mau berdiskusi tentang perubahan tubuh) dibandingkan terhadap luaran SLKI; lalu Assessment menyatakan apakah masalah teratasi/teratasi sebagian/belum teratasi, dan Planning menetapkan intervensi dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep Ca Mammae (Kanker Payudara) · Askep Nyeri Akut · Askep Ansietas (Kecemasan) · Daftar Askep Lengkap
Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?
Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Kanker Serviks (Ca Cervix)
Apa penyebab utama kanker serviks dan bagaimana cara pencegahannya?
Penyebab utama adalah infeksi HPV risiko tinggi yang persisten, terutama tipe 16 dan 18 yang menyebabkan sekitar 70% kasus. Pencegahan dilakukan dengan vaksinasi HPV (idealnya sebelum aktif seksual), skrining rutin IVA atau Pap smear, menghindari berganti pasangan seksual, dan tidak merokok.
Apa perbedaan skrining IVA dan Pap smear?
IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) mengoleskan asam asetat 3-5% pada serviks; lesi prakanker akan tampak putih (acetowhite) dan hasilnya langsung diketahui, murah, serta cocok untuk fasilitas terbatas. Pap smear mengambil sampel sel serviks untuk diperiksa di laboratorium (sitologi), lebih sensitif mendeteksi sel abnormal namun butuh waktu dan tenaga laboratorium.
Mengapa perdarahan pasca-senggama (kontak) menjadi tanda khas kanker serviks?
Jaringan tumor pada serviks sangat rapuh dan kaya pembuluh darah baru (neovaskularisasi), sehingga gesekan saat berhubungan seksual mudah memicu perdarahan. Perdarahan kontak bersama keputihan berbau adalah tanda peringatan dini yang harus segera diperiksakan.
