Pemberian Transfusi Darah: Prosedur & Langkah-Langkah
Pengertian Pemberian Transfusi Darah
Pemberian transfusi darah adalah tindakan memasukkan komponen darah (seperti Packed Red Cells/PRC, Whole Blood/WB, Trombosit/TC, atau Fresh Frozen Plasma/FFP) dari donor ke dalam sirkulasi pasien melalui akses intravena, sesuai instruksi dokter dan hasil pemeriksaan golongan darah serta uji kecocokan (crossmatch). Prosedur ini bertujuan mengganti atau menambah komponen darah yang kurang dan tergolong tindakan berisiko tinggi sehingga menuntut verifikasi kecocokan ganda oleh dua perawat di sisi pasien, penggunaan set transfusi ber-filter, kepatuhan pada batas waktu penyimpanan dingin (cold chain), serta observasi ketat terhadap reaksi transfusi.
Tujuan
- Mengganti kehilangan darah akibat perdarahan akut atau pembedahan dan mempertahankan volume sirkulasi
- Meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen pada pasien anemia berat
- Mengoreksi gangguan pembekuan darah melalui pemberian trombosit atau plasma (FFP)
- Memenuhi kebutuhan komponen darah spesifik sesuai kondisi klinis pasien
- Memberikan transfusi secara aman dengan meminimalkan risiko reaksi dan komplikasi
Indikasi
- Anemia berat dengan Hb rendah disertai gejala (lemah, sesak, takikardia) atau Hb di bawah ambang transfusi sesuai kebijakan
- Perdarahan akut atau syok hipovolemik akibat trauma maupun pembedahan
- Trombositopenia berat atau perdarahan akibat gangguan trombosit (indikasi TC)
- Gangguan koagulasi atau defisiensi faktor pembekuan yang memerlukan plasma/FFP
- Pasien pra/pasca operasi besar dengan kehilangan darah signifikan
- Penyakit hematologi kronis (mis. talasemia) yang memerlukan transfusi rutin
Persiapan Alat
- Kantong komponen darah yang sudah dicocokkan (PRC/WB/TC/FFP) sesuai instruksi
- Formulir/blanko transfusi, hasil crossmatch, dan rekam medis pasien
- Blood transfusion set ber-filter (selang transfusi dengan saringan 170-260 mikron)
- Cairan NaCl 0,9% (normal salin) sebagai satu-satunya cairan pendamping yang kompatibel
- Standar infus (tiang infus) dan abocath/IV kateter ukuran sesuai (umumnya 18-20 G dewasa; 22-24 G pada anak/vena kecil dengan laju lebih lambat sesuai kebijakan)
- Sarung tangan bersih, alkohol swab, plester/transparent dressing, torniket
- Set tanda vital: tensimeter, termometer, jam/pengukur waktu, oksimetri (bila ada)
- Bengkok, perlak/pengalas, dan tempat sampah medis/safety box
- Blood warmer hanya bila ada indikasi (transfusi masif/cepat, neonatus, cold agglutinin) dan kebijakan, gunakan alat pemanas terkontrol; jangan gunakan sumber panas tidak terkontrol karena dapat memicu hemolisis
- Kit penanganan reaksi transfusi/anafilaksis dan obat emergensi sesuai protokol unit
- Lembar observasi transfusi untuk dokumentasi tanda vital berkala
Prosedur & Langkah-Langkah
- Verifikasi instruksi dokter, lengkapi informed consent, dan pastikan hasil pemeriksaan golongan darah serta crossmatch yang kompatibel tersedia.
- Cuci tangan 6 langkah, kenakan sarung tangan, lalu lakukan identifikasi pasien (nama, tanggal lahir, nomor RM) dan jelaskan tujuan serta prosedur transfusi kepada pasien/keluarga.
- Ukur dan catat tanda vital awal (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan, dan saturasi) sebagai data dasar (baseline) sebelum transfusi; tunda dan laporkan bila suhu tinggi/demam.
- Ambil kantong darah dari bank darah/penyimpanan dingin tepat sebelum dipakai (jangan menyimpan di kulkas biasa di ruangan), lalu lakukan verifikasi kecocokan ganda (double check) oleh 2 perawat di sisi pasien: cocokkan identitas pasien dengan label kantong, golongan darah ABO-Rh pasien dan donor, hasil crossmatch yang kompatibel, nomor/seri kantong, jenis komponen, tanggal kadaluarsa, serta kondisi fisik darah (tidak ada gumpalan, perubahan warna, atau kebocoran).
- Pastikan akses intravena paten; bila belum ada, pasang IV kateter ukuran sesuai (umumnya 18-20 G dewasa) pada vena yang adekuat.
- Siapkan blood set ber-filter, isi (priming) selang dengan NaCl 0,9%, dan keluarkan udara dari selang; jangan mencampur darah dengan cairan selain NaCl 0,9% atau obat apa pun.
- Hubungkan blood set ke kantong darah, jaga teknik aseptik, lalu sambungkan ke akses IV pasien; transfusi harus dimulai dalam 30 menit setelah darah dikeluarkan dari penyimpanan dingin.
- Mulai transfusi dengan tetesan lambat sekitar 1-2 mL/menit (kurang lebih 60-120 mL/jam, mis. ~15-30 tetes/menit pada blood set 15 tetes/mL) pada 15 menit pertama sambil tetap berada di samping pasien.
- Lakukan observasi ketat selama 15 menit pertama; amati tanda reaksi transfusi seperti demam, menggigil, urtikaria/gatal, sesak napas, nyeri pinggang/dada, mual, atau perubahan tanda vital.
- Bila tidak ada reaksi, sesuaikan kecepatan tetesan sesuai instruksi sehingga 1 unit selesai dalam batas maksimal 4 jam untuk mencegah pertumbuhan bakteri.
- Pantau dan catat tanda vital secara berkala (mis. setelah 15 menit pertama, lalu tiap 30 menit-1 jam, dan saat selesai) hingga transfusi selesai sesuai kebijakan unit.
- Bila timbul reaksi transfusi: STOP transfusi segera, pertahankan jalur IV dengan NaCl 0,9% melalui selang baru untuk mempertahankan akses, laporkan ke dokter, dan simpan sisa kantong darah serta selang untuk diperiksa.
- Setelah 1 unit selesai, bilas selang dengan NaCl 0,9% bila akan dilanjutkan unit berikutnya, atau hentikan dan tutup akses sesuai instruksi.
- Rapikan alat, buang bahan habis pakai ke tempat sampah medis/safety box, lepas sarung tangan, dan cuci tangan 6 langkah.
- Dokumentasikan jenis dan jumlah komponen darah, nomor kantong, waktu mulai dan selesai, tanda vital berkala, respons pasien, serta ada/tidaknya reaksi transfusi pada rekam medis dan lembar observasi.
Hal yang Perlu Diperhatikan
- Verifikasi kecocokan ganda oleh 2 perawat di sisi pasien adalah wajib; kesalahan identifikasi/ABO dapat menyebabkan reaksi hemolitik fatal.
- Gunakan hanya NaCl 0,9% sebagai cairan pendamping; jangan mencampur darah dengan dekstrosa, Ringer Laktat, atau obat karena dapat menyebabkan hemolisis/gumpalan.
- Selalu gunakan set transfusi ber-filter dan jangan pakai darah yang sudah kadaluarsa, berubah warna, ada gumpalan, atau bocor.
- Transfusi harus DIMULAI dalam 30 menit setelah darah keluar dari penyimpanan dingin dan 1 unit DISELESAIKAN maksimal 4 jam; darah yang sudah keluar lebih dari batas waktu dan tidak dipakai jangan disimpan kembali ke kulkas biasa, kembalikan ke bank darah sesuai kebijakan.
- Observasi 15 menit pertama paling kritis; perawat tidak boleh meninggalkan pasien dan harus segera STOP transfusi bila ada tanda reaksi.
- Waspadai overload sirkulasi (TACO) terutama pada lansia, anak, dan pasien jantung/ginjal; pantau sesak, distensi vena, dan tanda vital secara ketat.
Lihat juga: Pemasangan Infus · Tanda-Tanda Vital (TTV) · Balance Cairan (Intake Output) · Daftar Tindakan Keperawatan · Contoh Askep
Mau Terampil Tindakan Keperawatan?
Latih skill klinis di lab modern + praktik 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ)
Mengapa transfusi darah harus dicek oleh 2 perawat (double check)?
Karena kesalahan identifikasi pasien atau ketidakcocokan golongan ABO-Rh dapat memicu reaksi hemolitik akut yang berakibat fatal. Verifikasi ganda di sisi pasien memastikan identitas pasien, golongan darah, hasil crossmatch, nomor kantong, jenis komponen, kadaluarsa, dan kondisi darah benar-benar cocok sebelum transfusi dimulai.
Mengapa hanya boleh memakai NaCl 0,9% dan tidak boleh cairan lain saat transfusi?
NaCl 0,9% isotonik dan tidak merusak sel darah. Cairan seperti dekstrosa dapat menyebabkan sel darah menggumpal/lisis (hemolisis), sedangkan Ringer Laktat mengandung kalsium yang dapat memicu pembekuan dalam selang. Karena itu darah tidak boleh dicampur dengan cairan selain NaCl 0,9% maupun obat apa pun.
Apa yang harus dilakukan perawat bila pasien mengalami reaksi transfusi?
Segera STOP transfusi, pertahankan jalur IV dengan NaCl 0,9% melalui selang baru untuk menjaga akses, lapor dokter, observasi dan catat tanda vital serta gejala (demam, menggigil, urtikaria, sesak, nyeri pinggang), simpan sisa kantong darah dan selang untuk pemeriksaan, lalu lanjutkan penanganan sesuai instruksi dokter.
