Latihan Range of Motion (ROM): Prosedur & Langkah-Langkah
Pengertian Latihan Range of Motion (ROM)
Latihan Range of Motion (ROM) adalah latihan menggerakkan persendian sesuai rentang gerak normalnya untuk mempertahankan atau meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan otot. ROM terbagi menjadi ROM aktif, yaitu gerakan yang dilakukan sendiri oleh pasien secara mandiri, dan ROM pasif, yaitu gerakan yang dibantu sepenuhnya oleh perawat ketika pasien tidak mampu bergerak sendiri. Tindakan ini terutama ditujukan untuk pasien dengan keterbatasan mobilisasi seperti pasien stroke, tirah baring lama, atau imobilisasi, guna mencegah komplikasi muskuloskeletal seperti kontraktur, kekakuan sendi, dan atrofi otot. Setiap sendi digerakkan melalui pola fleksi-ekstensi, abduksi-adduksi, rotasi, serta pronasi-supinasi sesuai jenis sendinya. Sebelum latihan, perawat wajib menyaring kontraindikasi (mis. fraktur belum stabil, inflamasi/infeksi sendi akut, trombosis vena dalam akut, atau pasca-operasi sendi tanpa instruksi) dan tidak memaksa gerakan melewati batas nyeri.
Tujuan
- Mempertahankan dan meningkatkan rentang gerak (fleksibilitas) sendi
- Mencegah kontraktur, kekakuan sendi, dan deformitas
- Mencegah atrofi dan mempertahankan kekuatan serta tonus otot
- Memperlancar sirkulasi vena dan membantu mencegah komplikasi imobilisasi pada ekstremitas (a.l. trombosis vena dalam/DVT)
- Menstimulasi kembali fungsi neuromuskular pada pasien stroke/kelemahan
- Meningkatkan kemandirian dan mempersiapkan pasien untuk mobilisasi
Indikasi
- Pasien tirah baring lama (bed rest) atau imobilisasi
- Pasien stroke dengan hemiparese/hemiplegia atau kelemahan ekstremitas
- Pasien pasca operasi atau pasca pemasangan gips/traksi yang berisiko kekakuan sendi (sesuai instruksi)
- Pasien dengan penurunan kekuatan/tonus otot atau risiko kontraktur
- Pasien tidak sadar atau koma (dilakukan ROM pasif)
- Pasien dengan keterbatasan mobilitas sendi yang membutuhkan rehabilitasi
Persiapan Alat
- Status/rekam medis dan format dokumentasi
- Alat pelindung diri: sarung tangan bersih (bila ada kontak cairan tubuh/lesi kulit)
- Bantal kecil untuk menyangga sendi/ekstremitas
- Selimut atau kain penutup untuk menjaga privasi dan kehangatan
- Lotion atau minyak (opsional, untuk memijat/melemaskan otot bila diperlukan)
- Tempat tidur dengan pengaman (side rail) yang berfungsi
- Jam tangan dengan jarum detik (untuk menghitung repetisi/durasi)
Prosedur & Langkah-Langkah
- Verifikasi instruksi/program latihan pada rekam medis dan identifikasi pasien dengan dua identitas (nama dan tanggal lahir)
- Lakukan kebersihan tangan (cuci tangan 6 langkah) dan pasang sarung tangan bila ada kontak cairan tubuh/lesi kulit
- Jelaskan tujuan dan prosedur latihan ROM kepada pasien dan keluarga, lalu lakukan kontrak waktu dan minta persetujuan (informed consent)
- Jaga privasi pasien dengan menutup tirai/sampiran; atur lingkungan agar hangat dan nyaman
- Kaji kondisi pasien dan SARING KONTRAINDIKASI sebelum mulai: tingkat kesadaran, kekuatan otot, area nyeri, serta ada/tidaknya fraktur belum stabil, inflamasi/infeksi sendi akut, DVT akut, atau pasca-operasi sendi tanpa instruksi dokter
- Atur posisi pasien terlentang yang nyaman dan rata; posisikan perawat di sisi yang akan dilatih dengan postur tubuh (body mechanic) yang benar
- Tentukan jenis latihan: ROM aktif bila pasien mampu menggerakkan sendiri (perawat memandu), atau ROM pasif bila pasien tidak mampu (perawat menggerakkan)
- Lakukan latihan secara sistematis dari proksimal ke distal pada satu sisi tubuh dahulu, umumnya mulai dari bahu lalu ke siku, pergelangan, jari, dan tungkai; latihan leher (servikal) bersifat OPSIONAL dan hanya dilakukan atas indikasi/instruksi dokter atau fisioterapis, dengan kehati-hatian khusus pada pasien stroke
- Sangga sendi yang digerakkan pada bagian proksimal dan distal; pada bahu sisi lemah pasien stroke, sangga skapula dan lengan serta JANGAN menarik dari distal/jari untuk mencegah subluksasi atau nyeri bahu; gerakkan setiap sendi secara perlahan, lembut, dan halus sesuai rentang gerak normal
- Lakukan pola gerakan sesuai sendi: fleksi-ekstensi, abduksi-adduksi, rotasi (internal/eksternal), pronasi-supinasi pada lengan bawah, dan inversi-eversi pada kaki; untuk leher (bila diindikasikan) gerakkan sangat hati-hati dan hindari rotasi/hiperekstensi paksa
- Lakukan setiap gerakan dengan repetisi 8-10 kali untuk tiap sendi, frekuensi 2 kali sehari sesuai program
- HENTIKAN gerakan bila pasien mengeluh nyeri, tampak meringis, atau ada tahanan/spasme; JANGAN paksa sendi melewati batas nyeri atau rentang gerak normal
- Observasi respons pasien selama latihan: ekspresi wajah, keluhan nyeri, tanda kelelahan, dan perubahan tanda vital
- Setelah selesai, kembalikan ekstremitas ke posisi anatomis yang nyaman dan rapikan posisi pasien
- Rapikan alat, lepas sarung tangan, dan lakukan kebersihan tangan kembali
- Dokumentasikan tindakan: jenis ROM, sendi yang dilatih, jumlah repetisi, respons/toleransi pasien, dan keluhan; laporkan kelainan kepada penanggung jawab
Hal yang Perlu Diperhatikan
- JANGAN memaksa gerakan melewati batas nyeri atau rentang gerak normal sendi; gerakan harus berhenti pada titik munculnya tahanan atau nyeri
- Selalu sangga sendi pada bagian proksimal dan distal untuk mencegah cedera ligamen, dislokasi, atau fraktur (terutama pada pasien osteoporosis/lansia); pada bahu sisi lemah pasien stroke sangga skapula dan lengan, jangan menarik dari jari/distal untuk mencegah subluksasi bahu
- Hati-hati/hindari ROM leher (servikal) sebagai rutin, terutama pada pasien stroke akut atau dugaan masalah tulang servikal; lakukan hanya atas instruksi dokter/fisioterapis dan tanpa rotasi/hiperekstensi paksa
- Gerakkan sendi secara perlahan dan halus, hindari gerakan menyentak atau terlalu cepat yang dapat menyebabkan cedera dan spasme otot
- Kontraindikasi/hati-hati pada sendi dengan inflamasi/infeksi akut, fraktur belum stabil, atau pasca operasi sendi tanpa instruksi dokter; pada kecurigaan atau DVT akut, JANGAN lakukan ROM pada ekstremitas yang terkena karena berisiko melepaskan emboli, segera laporkan ke dokter
- Hentikan latihan dan laporkan bila timbul nyeri hebat, bengkak, kemerahan, spasme, atau perubahan tanda vital yang signifikan; perhatikan kelelahan pasien, beri jeda istirahat, dan jaga kehangatan serta privasi
Lihat juga: Pemeriksaan Fisik · Tanda-Tanda Vital (TTV) · Daftar Tindakan Keperawatan · Contoh Askep
Mau Terampil Tindakan Keperawatan?
Latih skill klinis di lab modern + praktik 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa perbedaan ROM aktif dan ROM pasif?
ROM aktif adalah latihan gerak sendi yang dilakukan secara mandiri oleh pasien menggunakan kekuatan ototnya sendiri, sedangkan perawat hanya memandu. ROM pasif adalah gerakan yang sepenuhnya dibantu/digerakkan oleh perawat karena pasien tidak mampu bergerak sendiri, misalnya pada pasien tidak sadar, koma, atau lumpuh total. Ada pula ROM aktif-asistif, yaitu pasien bergerak sebagian dengan bantuan perawat.
Berapa kali pengulangan dan seberapa sering ROM dilakukan?
Setiap gerakan pada masing-masing sendi umumnya diulang 8-10 kali dan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore), atau disesuaikan dengan kondisi dan toleransi pasien serta program dari dokter/fisioterapis. Tujuannya menjaga konsistensi agar sendi tidak kaku dan otot tidak atrofi.
Apa yang harus dilakukan jika pasien mengeluh nyeri saat latihan ROM?
Segera hentikan gerakan pada titik tersebut dan jangan memaksa sendi melewati batas nyeri. Berikan kesempatan pasien beristirahat, kaji penyebab nyeri (tahanan, spasme, atau peradangan), dan lanjutkan dengan gerakan yang lebih perlahan dan dalam rentang yang ditoleransi. Bila nyeri hebat atau disertai bengkak/kemerahan, hentikan latihan dan laporkan kepada perawat penanggung jawab atau dokter karena dapat menandakan cedera, fraktur, atau DVT.
