Lewati ke konten utama

Latihan Range of Motion (ROM): Prosedur & Langkah-Langkah

⚕️ Catatan: Materi edukasi keperawatan untuk pembelajaran mahasiswa & tenaga kesehatan. Prosedur klinis harus dilakukan oleh tenaga terlatih sesuai SOP institusi & supervisi yang berlaku.

Pengertian Latihan Range of Motion (ROM)

Latihan Range of Motion (ROM) adalah latihan menggerakkan persendian sesuai rentang gerak normalnya untuk mempertahankan atau meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan otot. ROM terbagi menjadi ROM aktif, yaitu gerakan yang dilakukan sendiri oleh pasien secara mandiri, dan ROM pasif, yaitu gerakan yang dibantu sepenuhnya oleh perawat ketika pasien tidak mampu bergerak sendiri. Tindakan ini terutama ditujukan untuk pasien dengan keterbatasan mobilisasi seperti pasien stroke, tirah baring lama, atau imobilisasi, guna mencegah komplikasi muskuloskeletal seperti kontraktur, kekakuan sendi, dan atrofi otot. Setiap sendi digerakkan melalui pola fleksi-ekstensi, abduksi-adduksi, rotasi, serta pronasi-supinasi sesuai jenis sendinya. Sebelum latihan, perawat wajib menyaring kontraindikasi (mis. fraktur belum stabil, inflamasi/infeksi sendi akut, trombosis vena dalam akut, atau pasca-operasi sendi tanpa instruksi) dan tidak memaksa gerakan melewati batas nyeri.

Tujuan

Indikasi

Persiapan Alat

Prosedur & Langkah-Langkah

  1. Verifikasi instruksi/program latihan pada rekam medis dan identifikasi pasien dengan dua identitas (nama dan tanggal lahir)
  2. Lakukan kebersihan tangan (cuci tangan 6 langkah) dan pasang sarung tangan bila ada kontak cairan tubuh/lesi kulit
  3. Jelaskan tujuan dan prosedur latihan ROM kepada pasien dan keluarga, lalu lakukan kontrak waktu dan minta persetujuan (informed consent)
  4. Jaga privasi pasien dengan menutup tirai/sampiran; atur lingkungan agar hangat dan nyaman
  5. Kaji kondisi pasien dan SARING KONTRAINDIKASI sebelum mulai: tingkat kesadaran, kekuatan otot, area nyeri, serta ada/tidaknya fraktur belum stabil, inflamasi/infeksi sendi akut, DVT akut, atau pasca-operasi sendi tanpa instruksi dokter
  6. Atur posisi pasien terlentang yang nyaman dan rata; posisikan perawat di sisi yang akan dilatih dengan postur tubuh (body mechanic) yang benar
  7. Tentukan jenis latihan: ROM aktif bila pasien mampu menggerakkan sendiri (perawat memandu), atau ROM pasif bila pasien tidak mampu (perawat menggerakkan)
  8. Lakukan latihan secara sistematis dari proksimal ke distal pada satu sisi tubuh dahulu, umumnya mulai dari bahu lalu ke siku, pergelangan, jari, dan tungkai; latihan leher (servikal) bersifat OPSIONAL dan hanya dilakukan atas indikasi/instruksi dokter atau fisioterapis, dengan kehati-hatian khusus pada pasien stroke
  9. Sangga sendi yang digerakkan pada bagian proksimal dan distal; pada bahu sisi lemah pasien stroke, sangga skapula dan lengan serta JANGAN menarik dari distal/jari untuk mencegah subluksasi atau nyeri bahu; gerakkan setiap sendi secara perlahan, lembut, dan halus sesuai rentang gerak normal
  10. Lakukan pola gerakan sesuai sendi: fleksi-ekstensi, abduksi-adduksi, rotasi (internal/eksternal), pronasi-supinasi pada lengan bawah, dan inversi-eversi pada kaki; untuk leher (bila diindikasikan) gerakkan sangat hati-hati dan hindari rotasi/hiperekstensi paksa
  11. Lakukan setiap gerakan dengan repetisi 8-10 kali untuk tiap sendi, frekuensi 2 kali sehari sesuai program
  12. HENTIKAN gerakan bila pasien mengeluh nyeri, tampak meringis, atau ada tahanan/spasme; JANGAN paksa sendi melewati batas nyeri atau rentang gerak normal
  13. Observasi respons pasien selama latihan: ekspresi wajah, keluhan nyeri, tanda kelelahan, dan perubahan tanda vital
  14. Setelah selesai, kembalikan ekstremitas ke posisi anatomis yang nyaman dan rapikan posisi pasien
  15. Rapikan alat, lepas sarung tangan, dan lakukan kebersihan tangan kembali
  16. Dokumentasikan tindakan: jenis ROM, sendi yang dilatih, jumlah repetisi, respons/toleransi pasien, dan keluhan; laporkan kelainan kepada penanggung jawab

Hal yang Perlu Diperhatikan

Lihat juga: Pemeriksaan Fisik · Tanda-Tanda Vital (TTV) · Daftar Tindakan Keperawatan · Contoh Askep

Mau Terampil Tindakan Keperawatan?

Latih skill klinis di lab modern + praktik 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI.

📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa perbedaan ROM aktif dan ROM pasif?

ROM aktif adalah latihan gerak sendi yang dilakukan secara mandiri oleh pasien menggunakan kekuatan ototnya sendiri, sedangkan perawat hanya memandu. ROM pasif adalah gerakan yang sepenuhnya dibantu/digerakkan oleh perawat karena pasien tidak mampu bergerak sendiri, misalnya pada pasien tidak sadar, koma, atau lumpuh total. Ada pula ROM aktif-asistif, yaitu pasien bergerak sebagian dengan bantuan perawat.

Berapa kali pengulangan dan seberapa sering ROM dilakukan?

Setiap gerakan pada masing-masing sendi umumnya diulang 8-10 kali dan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore), atau disesuaikan dengan kondisi dan toleransi pasien serta program dari dokter/fisioterapis. Tujuannya menjaga konsistensi agar sendi tidak kaku dan otot tidak atrofi.

Apa yang harus dilakukan jika pasien mengeluh nyeri saat latihan ROM?

Segera hentikan gerakan pada titik tersebut dan jangan memaksa sendi melewati batas nyeri. Berikan kesempatan pasien beristirahat, kaji penyebab nyeri (tahanan, spasme, atau peradangan), dan lanjutkan dengan gerakan yang lebih perlahan dan dalam rentang yang ditoleransi. Bila nyeri hebat atau disertai bengkak/kemerahan, hentikan latihan dan laporkan kepada perawat penanggung jawab atau dokter karena dapat menandakan cedera, fraktur, atau DVT.

✓ Terakreditasi BAN-PT
✓ LAM-PTKes
✓ Yayasan UKI
✓ 40+ RS Mitra
✓ Sejak 1999