Asuhan Keperawatan (Askep) Sirosis Hepatis
Pengertian Sirosis Hepatis
Sirosis hepatis adalah penyakit hati kronik dan ireversibel yang ditandai dengan kerusakan sel hati difus, fibrosis (jaringan parut), dan pembentukan nodul regeneratif yang mengubah arsitektur normal hati. Distorsi struktur ini meningkatkan resistensi aliran darah melalui hati sehingga terjadi hipertensi portal yang signifikan secara klinis (gradien tekanan vena hepatika >=10 mmHg), sekaligus menurunkan fungsi sintetik (albumin, faktor pembekuan), metabolik, dan detoksifikasi hati. Akibatnya muncul manifestasi seperti asites, varises esofagus, ikterik, koagulopati, dan ensefalopati hepatik akibat akumulasi amonia. Sirosis merupakan tahap akhir berbagai penyakit hati kronik dan bersifat progresif menuju gagal hati.
Etiologi (Penyebab)
- Infeksi virus hepatitis B dan C kronik (penyebab tersering di Indonesia)
- Penyalahgunaan alkohol kronik (sirosis alkoholik)
- Perlemakan hati non-alkoholik (NAFLD/NASH) terkait obesitas dan diabetes melitus
- Penyakit bilier kronik (sirosis bilier primer, obstruksi/kolestasis kronik)
- Penyakit autoimun (hepatitis autoimun) dan kelainan metabolik/genetik (hemokromatosis, penyakit Wilson)
- Paparan zat hepatotoksik dan obat-obatan tertentu jangka panjang
Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)
- Ikterik (sklera dan kulit kuning) serta pruritus akibat hiperbilirubinemia
- Asites dan edema tungkai akibat hipertensi portal dan hipoalbuminemia
- Distensi abdomen, caput medusae, dan splenomegali
- Varises esofagus/gaster berisiko ruptur; hematemesis dan melena bila pecah
- Mudah memar dan perdarahan akibat koagulopati (gangguan sintesis faktor pembekuan)
- Tanda ensefalopati hepatik: bingung, perubahan perilaku, asteriksis (flapping tremor), penurunan kesadaran
- Eritema palmaris, spider nevi, dan ginekomastia
- Fatigue, anoreksia, mual, dan penurunan berat badan/massa otot
Pengkajian Keperawatan
Data yang dikaji perawat pada pasien Sirosis Hepatis:
- Riwayat penyakit: hepatitis B/C, konsumsi alkohol, riwayat transfusi, obat hepatotoksik, dan diabetes/obesitas
- Tanda vital, berat badan harian, dan lingkar perut untuk memantau asites
- Pemeriksaan abdomen: distensi, shifting dullness, splenomegali, hepatomegali/pengecilan hati, caput medusae
- Status kulit dan sklera: derajat ikterik, spider nevi, eritema palmaris, ekimosis/petekie
- Status nutrisi: anoreksia, mual, penurunan BB, atrofi otot, intake aktual
- Status neurologis dan kesadaran: orientasi, asteriksis, perubahan perilaku (deteksi dini ensefalopati)
- Tanda perdarahan saluran cerna: hematemesis, melena, hematokrit/Hb
- Hasil laboratorium: bilirubin, albumin, SGOT/SGPT, PT/INR, amonia darah, elektrolit (natrium), dan fungsi ginjal
Diagnosa & Intervensi Keperawatan
Berikut diagnosa keperawatan utama Sirosis Hepatis (SDKI) beserta intervensi (SIKI):
1. Hipervolemia b.d gangguan mekanisme regulasi (hipoalbuminemia dan hipertensi portal) d.d asites, edema, dan peningkatan berat badan
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: pantau berat badan harian dengan timbangan dan waktu yang sama, ukur lingkar perut, kaji derajat edema serta tanda vital
- Observasi: monitor intake-output cairan, balans cairan, dan hasil laboratorium (albumin, elektrolit, natrium)
- Terapeutik: batasi asupan cairan dan natrium sesuai program, tinggikan posisi kaki dan atur posisi semi-Fowler untuk kenyamanan pernapasan
- Edukasi: jelaskan pentingnya pembatasan natrium (diet rendah garam) serta cara memantau berat badan dan asupan cairan di rumah
- Kolaborasi: pemberian diuretik (spironolakton/furosemid), albumin, dan persiapan parasentesis bila asites masif sesuai indikasi
2. Defisit nutrisi b.d ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien dan faktor psikologis (anoreksia) d.d penurunan berat badan, atrofi otot, dan penurunan nafsu makan
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: identifikasi status nutrisi, antropometri, keluhan mual/anoreksia, dan pantau berat badan serta albumin
- Observasi: monitor asupan makanan dan hasil laboratorium terkait status gizi
- Terapeutik: sajikan makanan porsi kecil tapi sering, tinggi kalori dan cukup protein sesuai toleransi; batasi protein hanya saat episode ensefalopati
- Edukasi: ajarkan diet hati seimbang, pembatasan natrium, dan menghindari alkohol
- Kolaborasi: rujuk ahli gizi untuk diet hati, pemberian suplemen vitamin (B kompleks, K) dan dukungan nutrisi enteral bila perlu
3. Risiko perdarahan b.d gangguan koagulasi (penurunan sintesis faktor pembekuan) dan varises esofagus
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: monitor tanda perdarahan (hematemesis, melena, ekimosis, petekie, gusi berdarah) dan tanda vital secara berkala
- Observasi: pantau hasil laboratorium koagulasi (PT/INR), hemoglobin, hematokrit, dan trombosit
- Terapeutik: hindari tindakan invasif tidak perlu, anjurkan sikat gigi lembut dan cegah mengejan/konstipasi yang dapat memicu ruptur varises
- Edukasi: anjurkan menghindari makanan keras/kasar, aspirin/NSAID, dan alkohol; segera lapor bila muntah darah atau BAB hitam
- Kolaborasi: pemberian vitamin K, produk darah/plasma sesuai indikasi, serta obat penurun tekanan portal (beta-blocker non-selektif) dan tindakan endoskopi/ligasi varises bila perlu
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi SOAP: S - pasien melaporkan perut terasa lebih ringan dan sesak berkurang; O - berat badan turun, lingkar perut menurun, edema berkurang, kesadaran kompos mentis tanpa tanda perdarahan aktif; A - masalah hipervolemia teratasi sebagian; P - lanjutkan pemantauan balans cairan, berat badan harian, status nutrisi, dan tanda perdarahan serta ensefalopati. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep Hepatitis · Askep Gagal Ginjal Kronik (CKD) · Askep Anemia · Daftar Askep Lengkap
Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?
Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Sirosis Hepatis
Apa perbedaan sirosis hepatis dengan hepatitis?
Hepatitis adalah peradangan hati yang dapat akut maupun kronik dan masih berpotensi sembuh. Sirosis adalah tahap akhir kerusakan hati kronik berupa fibrosis dan nodul yang bersifat ireversibel. Hepatitis B/C kronik yang tidak tertangani merupakan salah satu penyebab utama sirosis.
Mengapa pasien sirosis bisa mengalami asites?
Asites terjadi akibat kombinasi hipertensi portal yang meningkatkan tekanan hidrostatik di pembuluh splanknik dan hipoalbuminemia yang menurunkan tekanan onkotik plasma. Aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron juga menyebabkan retensi natrium dan air sehingga cairan menumpuk di rongga peritoneum.
Mengapa protein dibatasi pada pasien ensefalopati hepatik?
Pemecahan protein menghasilkan amonia yang normalnya didetoksifikasi hati menjadi urea. Pada sirosis, hati gagal menetralkan amonia sehingga kadarnya meningkat dan memicu ensefalopati. Restriksi protein bersifat sementara hanya saat episode ensefalopati berat; di luar itu protein cukup tetap diperlukan untuk mencegah malnutrisi dan atrofi otot.
