Asuhan Keperawatan (Askep) Plasenta Previa
Pengertian Plasenta Previa
Plasenta previa adalah keadaan di mana plasenta berimplantasi pada segmen bawah uterus sehingga seluruh atau sebagian menutupi ostium uteri internum (OUI), atau tepi plasenta berada sangat dekat dengan OUI. Berdasarkan letaknya dibedakan menjadi plasenta previa totalis (OUI tertutup seluruhnya), parsialis (OUI tertutup sebagian), marginalis (tepi plasenta tepat di pinggir OUI), dan letak rendah (plasenta berada di segmen bawah rahim, tepi 2-3,5 cm dari OUI). Karena segmen bawah rahim meregang dan menipis pada akhir kehamilan serta saat awal persalinan, vili korialis terlepas dari dinding uterus dan robekan sinus venosus menimbulkan perdarahan. Ciri khasnya adalah perdarahan pervaginam berwarna merah segar yang terjadi tiba-tiba tanpa rasa nyeri pada trimester III, sehingga membedakannya dari solusio plasenta yang nyeri.
Etiologi (Penyebab)
- Riwayat seksio sesarea atau bedah/kuretase uterus sebelumnya (jaringan parut endometrium)
- Multiparitas dan grande multipara (vaskularisasi desidua menurun)
- Usia ibu tua (>35 tahun) atau usia sangat muda
- Riwayat plasenta previa pada kehamilan sebelumnya
- Kehamilan kembar/gemelli (plasenta luas membutuhkan area implantasi lebih besar)
- Merokok dan penggunaan kokain (hipoksia endometrium kompensatif), serta riwayat endometritis
Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)
- Perdarahan pervaginam merah segar, tiba-tiba, dan TANPA nyeri (painless bleeding) pada trimester III
- Perdarahan dapat berulang dengan volume yang cenderung meningkat pada episode berikutnya
- Uterus lunak, tidak tegang/tidak nyeri tekan (berbeda dengan solusio plasenta)
- Bagian terbawah janin tinggi/belum masuk PAP, sering disertai kelainan letak (lintang/sungsang)
- Tanda anemia dan hipovolemia: pucat, takikardia, hipotensi, akral dingin, CRT >2 detik
- Denyut jantung janin umumnya masih normal pada perdarahan ringan; dapat terganggu bila perdarahan masif
- Tinggi fundus uteri sesuai usia kehamilan; bunyi jantung janin biasanya jelas terdengar
Pengkajian Keperawatan
Data yang dikaji perawat pada pasien Plasenta Previa:
- Anamnesis perdarahan: onset, warna (merah segar), jumlah, frekuensi/berulang, ada-tidaknya nyeri, faktor pencetus (coitus, aktivitas)
- Riwayat obstetri: paritas, riwayat SC/kuretase/bedah uterus, riwayat plasenta previa, usia kehamilan (HPHT/USG)
- Tanda vital lengkap: tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu; nilai tanda syok (takikardia, hipotensi, takipnea)
- Status hemodinamik: konjungtiva/kulit pucat, CRT, akral, produksi urin (output ginjal sebagai indikator perfusi)
- Pemeriksaan abdomen: tinggi fundus uteri, kontraksi/tonus uterus (lunak), letak dan presentasi janin (Leopold)
- Kesejahteraan janin: denyut jantung janin (normal 110-160 x/menit), gerak janin, hasil USG letak plasenta dan OUI
- Hasil laboratorium: kadar Hb/hematokrit, golongan darah dan rhesus, trombosit, faktor pembekuan; jumlah perdarahan
- Status psikologis ibu dan keluarga: tingkat kecemasan, pengetahuan tentang kondisi dan rencana persalinan. CATATAN: TIDAK boleh dilakukan pemeriksaan dalam (vaginal toucher)
Diagnosa & Intervensi Keperawatan
Berikut diagnosa keperawatan utama Plasenta Previa (SDKI) beserta intervensi (SIKI):
1. Risiko syok (hipovolemik) b.d perdarahan pervaginam akibat pelepasan plasenta dari segmen bawah uterus
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: monitor tanda dan gejala syok hipovolemik (penurunan TD, takikardia, takipnea, akral dingin, CRT memanjang, penurunan produksi urin) dan pantau jumlah/karakteristik perdarahan pervaginam
- Observasi: pantau status hemodinamik (TD, nadi, MAP) dan hasil laboratorium (Hb, hematokrit, golongan darah) secara berkala
- Terapeutik: pasang akses intravena dua jalur berdiameter besar dan berikan resusitasi cairan kristaloid sesuai protokol; pertahankan tirah baring total dengan posisi miring kiri (mencegah supine hypotensive syndrome)
- Terapeutik: bila tanda syok muncul, posisikan ibu miring kiri dengan tungkai sedikit ditinggikan (HINDARI posisi supine/telentang datar karena uterus gravid menekan vena kava) dan berikan oksigen sesuai kebutuhan
- Kolaborasi: kolaborasi pemberian transfusi produk darah, cairan IV, dan persiapan terminasi kehamilan (seksio sesarea) dengan tim medis
2. Risiko cedera pada janin b.d gangguan perfusi uteroplasenta akibat perdarahan ibu (d.d perdarahan pervaginam, penurunan suplai oksigen ke janin)
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: monitor denyut jantung janin (frekuensi 110-160 x/menit, variabilitas, deselerasi) menggunakan auskultasi/kardiotokografi (CTG)
- Observasi: pantau gerakan janin dan tanda gawat janin; identifikasi usia kehamilan dan taksiran berat janin
- Terapeutik: berikan oksigen pada ibu dan posisikan ibu miring kiri untuk mengoptimalkan aliran darah uteroplasenta; pertahankan tirah baring
- Terapeutik: HINDARI pemeriksaan dalam (vaginal toucher) dan rangsangan pada serviks/uterus yang dapat memicu perdarahan dan gawat janin
- Kolaborasi: kolaborasi pemberian kortikosteroid (pematangan paru janin bila preterm) dan persiapan resusitasi neonatus serta seksio sesarea bila janin terancam
3. Ansietas b.d ancaman terhadap kondisi ibu dan janin serta rencana tindakan persalinan (seksio sesarea)
Intervensi Keperawatan:
- Observasi: identifikasi tingkat ansietas dan tanda fisik kecemasan (gelisah, takikardia, sulit konsentrasi) serta pemahaman ibu tentang kondisinya
- Terapeutik: ciptakan suasana terapeutik dan temani pasien; gunakan pendekatan tenang dan meyakinkan untuk menurunkan kecemasan
- Terapeutik: fasilitasi dukungan keluarga dan dengarkan keluhan/kekhawatiran pasien dengan empati
- Edukasi: jelaskan kondisi plasenta previa, tujuan tirah baring, larangan VT, prosedur pemantauan, dan rencana persalinan secara jelas dan jujur
- Edukasi: ajarkan teknik relaksasi (napas dalam) dan anjurkan melaporkan segera bila perdarahan bertambah atau muncul tanda gawat
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi dilakukan dengan format SOAP: S (ibu menyatakan perdarahan berkurang dan cemas mereda), O (TD dan nadi stabil dalam batas normal, Hb terkontrol, DJJ 110-160 x/menit, tidak ada tanda syok), A (masalah risiko syok dan risiko cedera janin teratasi sebagian/teratasi), P (lanjutkan pemantauan hemodinamik, DJJ, dan perdarahan; lanjutkan persiapan seksio sesarea sesuai indikasi). Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep Abortus · Askep Post Sectio Caesarea · Askep Anemia · Daftar Askep Lengkap
Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?
Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Plasenta Previa
Apa perbedaan plasenta previa dan solusio plasenta?
Plasenta previa memberi perdarahan merah segar TANPA nyeri dengan uterus lunak dan plasenta berada di segmen bawah menutupi OUI. Solusio plasenta memberi perdarahan disertai NYERI hebat, uterus tegang/keras (his tetanik), dan plasenta letaknya normal namun terlepas sebelum waktunya. Kunci pembedanya adalah ada-tidaknya nyeri dan tonus uterus.
Mengapa pemeriksaan dalam (VT) dilarang pada plasenta previa?
Pemeriksaan dalam dapat menyentuh dan merobek plasenta yang menutupi ostium uteri internum sehingga memicu perdarahan masif yang membahayakan ibu dan janin. Diagnosis pasti letak plasenta ditegakkan dengan USG (transabdominal/transvaginal hati-hati), bukan dengan VT.
Apa diagnosa keperawatan utama pada plasenta previa?
Tiga diagnosa SDKI paling relevan adalah Risiko syok (hipovolemik) akibat perdarahan, Risiko cedera pada janin akibat gangguan perfusi uteroplasenta, dan Ansietas terkait ancaman kondisi ibu-janin serta rencana seksio sesarea. Prioritas utama adalah mencegah dan mengatasi syok hipovolemik karena mengancam nyawa.
