Asuhan Keperawatan (Askep) Abortus (Keguguran)
Pengertian Abortus (Keguguran)
Abortus (keguguran) adalah berakhirnya atau keluarnya hasil konsepsi sebelum janin mampu hidup di luar kandungan, yaitu pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau dengan berat janin kurang dari 500 gram. Secara klinis abortus diklasifikasikan menjadi abortus imminens (ancaman keguguran dengan ostium serviks masih tertutup), abortus insipiens (keguguran yang sedang berlangsung dengan ostium membuka), abortus inkomplit (sebagian hasil konsepsi masih tertinggal dalam uterus), abortus komplit (seluruh hasil konsepsi telah keluar), serta missed abortion (janin telah mati namun tertahan dalam uterus, klasik lebih dari 8 minggu). Manifestasi utama berupa perdarahan pervaginam dan nyeri perut bagian bawah, dengan komplikasi yang paling mengancam jiwa adalah syok hipovolemik akibat perdarahan masif. Penatalaksanaan dapat berupa terapi konservatif (bed rest) pada abortus imminens hingga evakuasi sisa konsepsi melalui kuretase atau aspirasi vakum manual (AVM) pada abortus inkomplit dan insipiens.
Etiologi (Penyebab)
- Kelainan kromosom/genetik hasil konsepsi (penyebab tersering abortus trimester pertama, mis. trisomi autosom)
- Kelainan endokrin/hormonal: defisiensi progesteron, diabetes melitus tidak terkontrol, gangguan tiroid
- Infeksi maternal: TORCH (toksoplasma, rubella, CMV, herpes), sifilis, infeksi saluran kemih/genital
- Kelainan anatomi uterus: mioma, septum uteri, inkompetensia serviks
- Faktor imunologi (mis. sindrom antifosfolipid) dan trombofilia
- Faktor maternal lain: usia ibu >35 tahun, trauma, malnutrisi, paparan rokok/alkohol/zat teratogenik
Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)
- Perdarahan pervaginam (bercak/flek hingga perdarahan masif disertai bekuan darah)
- Nyeri perut bagian bawah dan/atau nyeri pinggang bersifat kram (kontraksi uterus)
- Amenore atau riwayat terlambat haid disertai tanda kehamilan
- Pengeluaran jaringan/hasil konsepsi melalui vagina (pada inkomplit/komplit)
- Status ostium uteri: terbuka pada insipiens/inkomplit, tertutup pada imminens/komplit
- Tinggi fundus uteri tidak sesuai usia kehamilan (lebih kecil, terutama pada missed abortion)
- Tanda syok hipovolemik bila perdarahan masif: takikardia, hipotensi, akral dingin, pucat, oliguria
- Hilangnya tanda kehamilan dan denyut jantung janin negatif pada USG (missed abortion)
Pengkajian Keperawatan
Data yang dikaji perawat pada pasien Abortus (Keguguran):
- Anamnesis kehamilan: HPHT, usia kehamilan, status gravida-para-abortus (GPA), riwayat obstetri
- Karakteristik perdarahan: jumlah (hitung pembalut), warna, ada/tidaknya bekuan dan jaringan konsepsi
- Pengkajian nyeri (PQRST): lokasi, intensitas skala 0-10, sifat kram, frekuensi
- Tanda-tanda vital lengkap (TD, nadi, suhu, frekuensi napas) dan pantau tanda dini syok hipovolemik
- Pemeriksaan fisik abdomen: tinggi fundus uteri, kontraksi/nyeri tekan; serta kondisi ostium serviks (terbuka/tertutup) via inspekulo
- Hasil laboratorium: kadar Hb dan hematokrit, beta-hCG, golongan darah dan rhesus
- Hasil USG: keberadaan kantung gestasi/janin, denyut jantung janin, sisa jaringan konsepsi
- Status psikologis dan emosional: tingkat kecemasan, respons berduka, makna kehilangan, dukungan keluarga
Diagnosa & Intervensi Keperawatan
Berikut diagnosa keperawatan utama Abortus (Keguguran) (SDKI) beserta intervensi (SIKI):
1. Hipovolemia b.d kehilangan cairan aktif (perdarahan pervaginam) d.d frekuensi nadi meningkat, tekanan darah menurun, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, dan hematokrit meningkat
Intervensi Keperawatan:
- Periksa tanda dan gejala hipovolemia (frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah dan tekanan nadi menurun, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, hematokrit meningkat, haus, lemah)
- Monitor jumlah, warna, dan karakteristik perdarahan pervaginam (hitung jumlah pembalut) serta intake-output cairan
- Berikan asupan cairan oral sesuai toleransi; pada kondisi syok berikan posisi modified Trendelenburg bila tidak ada kontraindikasi
- Kolaborasi pemberian cairan IV kristaloid isotonis (NaCl 0,9%/Ringer Laktat) dan produk darah (transfusi) bila Hb rendah atau terjadi syok
- Kolaborasi pemberian uterotonika (mis. oksitosin) dan persiapan evakuasi/kuretase untuk menghentikan sumber perdarahan
2. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis (kontraksi uterus dan dilatasi serviks) d.d mengeluh nyeri, tampak meringis, dan bersikap protektif terhadap area abdomen
Intervensi Keperawatan:
- Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri serta skala nyeri (0-10)
- Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri serta respons nyeri non-verbal
- Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (relaksasi napas dalam, kompres hangat, distraksi, pengaturan posisi nyaman)
- Edukasi strategi meredakan nyeri dan anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
- Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi dan evaluasi efektivitasnya
3. Ansietas b.d ancaman terhadap kondisi kehamilan dan kekhawatiran kehilangan janin d.d merasa khawatir, tampak gelisah, tegang, sulit tidur, dan frekuensi nadi meningkat
Intervensi Keperawatan:
- Identifikasi tingkat ansietas dan kemampuan mengambil keputusan; monitor tanda ansietas verbal maupun non-verbal
- Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan dan temani pasien untuk mengurangi kecemasan
- Dengarkan keluhan dengan penuh perhatian, fasilitasi pengungkapan perasaan berduka, dan dampingi proses kehilangan
- Jelaskan secara jujur prosedur, kondisi, dan prognosis yang dialami serta libatkan keluarga sebagai sistem pendukung
- Latih teknik relaksasi (napas dalam) dan kolaborasi pemberian obat antiansietas bila diperlukan
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi disusun dengan format SOAP: S (subjektif) pasien menyatakan perdarahan berkurang, nyeri menurun, dan rasa cemas berkurang; O (objektif) tanda vital stabil (TD, nadi, dan Hb dalam rentang normal), perdarahan terkendali, dan ekspresi tenang; A (assessment) masalah hipovolemia, nyeri akut, dan ansietas teratasi sebagian/teratasi; P (planning) lanjutkan pemantauan tanda vital dan perdarahan, rencanakan perawatan pasca kuretase serta edukasi pemulangan. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep Hiperemesis Gravidarum · Askep Post Sectio Caesarea · Askep Anemia · Daftar Askep Lengkap
Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?
Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Abortus (Keguguran)
Apa perbedaan abortus imminens, insipiens, inkomplit, dan komplit?
Abortus imminens adalah ancaman keguguran dengan perdarahan ringan dan ostium serviks masih tertutup sehingga kehamilan kadang dapat dipertahankan. Abortus insipiens adalah keguguran yang sedang berlangsung dengan ostium sudah membuka tetapi hasil konsepsi belum keluar. Abortus inkomplit berarti sebagian jaringan konsepsi sudah keluar namun sebagian masih tertinggal sehingga perdarahan cenderung banyak dan memerlukan kuretase. Abortus komplit berarti seluruh hasil konsepsi sudah keluar, ostium menutup, dan perdarahan berkurang.
Mengapa pasien abortus berisiko mengalami syok hipovolemik?
Pada abortus, terutama jenis inkomplit dan insipiens, jaringan konsepsi yang tertinggal mencegah uterus berkontraksi sempurna sehingga pembuluh darah terbuka dan terjadi perdarahan masif. Kehilangan darah dalam jumlah besar menurunkan volume sirkulasi, sehingga muncul takikardia, hipotensi, akral dingin, dan penurunan produksi urine. Bila tidak segera ditangani dengan resusitasi cairan, transfusi, dan evakuasi sisa konsepsi, kondisi ini dapat berlanjut menjadi syok hipovolemik yang mengancam jiwa.
Apa peran perawat dalam perawatan pasien yang akan menjalani kuretase?
Peran perawat meliputi tahap pra, intra, dan pasca tindakan. Pada pra-kuretase perawat memastikan informed consent, puasa, memasang akses IV, memantau tanda vital, serta menyiapkan dukungan psikologis. Saat tindakan perawat membantu posisi litotomi dan memonitor kondisi pasien. Pasca-kuretase perawat memantau perdarahan dan tanda vital, mengkaji nyeri, mengawasi tanda infeksi, serta memberikan edukasi tentang tanda bahaya (perdarahan banyak, demam, nyeri hebat) dan jadwal kontrol ulang.
