Lewati ke konten utama

Asuhan Keperawatan (Askep) Abortus (Keguguran)

⚕️ Catatan: Konten ini adalah materi edukasi keperawatan untuk pembelajaran mahasiswa & tenaga kesehatan. Bukan pengganti penilaian klinis profesional. Setiap asuhan keperawatan harus disesuaikan dengan kondisi individual pasien.

Pengertian Abortus (Keguguran)

Abortus (keguguran) adalah berakhirnya atau keluarnya hasil konsepsi sebelum janin mampu hidup di luar kandungan, yaitu pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau dengan berat janin kurang dari 500 gram. Secara klinis abortus diklasifikasikan menjadi abortus imminens (ancaman keguguran dengan ostium serviks masih tertutup), abortus insipiens (keguguran yang sedang berlangsung dengan ostium membuka), abortus inkomplit (sebagian hasil konsepsi masih tertinggal dalam uterus), abortus komplit (seluruh hasil konsepsi telah keluar), serta missed abortion (janin telah mati namun tertahan dalam uterus, klasik lebih dari 8 minggu). Manifestasi utama berupa perdarahan pervaginam dan nyeri perut bagian bawah, dengan komplikasi yang paling mengancam jiwa adalah syok hipovolemik akibat perdarahan masif. Penatalaksanaan dapat berupa terapi konservatif (bed rest) pada abortus imminens hingga evakuasi sisa konsepsi melalui kuretase atau aspirasi vakum manual (AVM) pada abortus inkomplit dan insipiens.

Etiologi (Penyebab)

Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)

Pengkajian Keperawatan

Data yang dikaji perawat pada pasien Abortus (Keguguran):

Diagnosa & Intervensi Keperawatan

Berikut diagnosa keperawatan utama Abortus (Keguguran) (SDKI) beserta intervensi (SIKI):

1. Hipovolemia b.d kehilangan cairan aktif (perdarahan pervaginam) d.d frekuensi nadi meningkat, tekanan darah menurun, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, dan hematokrit meningkat

Intervensi Keperawatan:

2. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis (kontraksi uterus dan dilatasi serviks) d.d mengeluh nyeri, tampak meringis, dan bersikap protektif terhadap area abdomen

Intervensi Keperawatan:

3. Ansietas b.d ancaman terhadap kondisi kehamilan dan kekhawatiran kehilangan janin d.d merasa khawatir, tampak gelisah, tegang, sulit tidur, dan frekuensi nadi meningkat

Intervensi Keperawatan:

Evaluasi Keperawatan

Evaluasi disusun dengan format SOAP: S (subjektif) pasien menyatakan perdarahan berkurang, nyeri menurun, dan rasa cemas berkurang; O (objektif) tanda vital stabil (TD, nadi, dan Hb dalam rentang normal), perdarahan terkendali, dan ekspresi tenang; A (assessment) masalah hipovolemia, nyeri akut, dan ansietas teratasi sebagian/teratasi; P (planning) lanjutkan pemantauan tanda vital dan perdarahan, rencanakan perawatan pasca kuretase serta edukasi pemulangan. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.

Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep Hiperemesis Gravidarum · Askep Post Sectio Caesarea · Askep Anemia · Daftar Askep Lengkap

Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?

Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.

📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3

Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Abortus (Keguguran)

Apa perbedaan abortus imminens, insipiens, inkomplit, dan komplit?

Abortus imminens adalah ancaman keguguran dengan perdarahan ringan dan ostium serviks masih tertutup sehingga kehamilan kadang dapat dipertahankan. Abortus insipiens adalah keguguran yang sedang berlangsung dengan ostium sudah membuka tetapi hasil konsepsi belum keluar. Abortus inkomplit berarti sebagian jaringan konsepsi sudah keluar namun sebagian masih tertinggal sehingga perdarahan cenderung banyak dan memerlukan kuretase. Abortus komplit berarti seluruh hasil konsepsi sudah keluar, ostium menutup, dan perdarahan berkurang.

Mengapa pasien abortus berisiko mengalami syok hipovolemik?

Pada abortus, terutama jenis inkomplit dan insipiens, jaringan konsepsi yang tertinggal mencegah uterus berkontraksi sempurna sehingga pembuluh darah terbuka dan terjadi perdarahan masif. Kehilangan darah dalam jumlah besar menurunkan volume sirkulasi, sehingga muncul takikardia, hipotensi, akral dingin, dan penurunan produksi urine. Bila tidak segera ditangani dengan resusitasi cairan, transfusi, dan evakuasi sisa konsepsi, kondisi ini dapat berlanjut menjadi syok hipovolemik yang mengancam jiwa.

Apa peran perawat dalam perawatan pasien yang akan menjalani kuretase?

Peran perawat meliputi tahap pra, intra, dan pasca tindakan. Pada pra-kuretase perawat memastikan informed consent, puasa, memasang akses IV, memantau tanda vital, serta menyiapkan dukungan psikologis. Saat tindakan perawat membantu posisi litotomi dan memonitor kondisi pasien. Pasca-kuretase perawat memantau perdarahan dan tanda vital, mengkaji nyeri, mengawasi tanda infeksi, serta memberikan edukasi tentang tanda bahaya (perdarahan banyak, demam, nyeri hebat) dan jadwal kontrol ulang.

✓ Terakreditasi BAN-PT
✓ LAM-PTKes
✓ Yayasan UKI
✓ 40+ RS Mitra
✓ Sejak 1999