Lewati ke konten utama

Asuhan Keperawatan (Askep) Gizi Buruk (Marasmus & Kwashiorkor)

⚕️ Catatan: Konten ini adalah materi edukasi keperawatan untuk pembelajaran mahasiswa & tenaga kesehatan. Bukan pengganti penilaian klinis profesional. Setiap asuhan keperawatan harus disesuaikan dengan kondisi individual pasien.

Pengertian Gizi Buruk (Marasmus & Kwashiorkor)

Gizi buruk (severe acute malnutrition/malnutrisi energi-protein berat) adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak, umumnya balita, akibat asupan energi dan protein yang tidak adekuat dalam waktu lama dan/atau peningkatan kebutuhan akibat penyakit. Secara antropometri ditandai dengan berat badan menurut panjang/tinggi badan (BB/PB atau BB/TB) di bawah -3 SD, dan/atau lingkar lengan atas (LiLA) <11,5 cm pada anak 6-59 bulan, dan/atau adanya edema bilateral pitting. Gizi buruk dibedakan menjadi tiga bentuk klinis: marasmus (dominan defisiensi energi, anak tampak sangat kurus seperti "kulit membungkus tulang"), kwashiorkor (dominan defisiensi protein dengan hipoalbuminemia, ditandai edema), dan marasmik-kwashiorkor (kombinasi sangat kurus disertai edema). Kondisi ini menyebabkan disfungsi multiorgan dan menempatkan anak pada risiko tinggi kematian akibat hipoglikemia, hipotermia, dehidrasi, gangguan elektrolit, dan infeksi.

Etiologi (Penyebab)

Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)

Pengkajian Keperawatan

Data yang dikaji perawat pada pasien Gizi Buruk (Marasmus & Kwashiorkor):

Diagnosa & Intervensi Keperawatan

Berikut diagnosa keperawatan utama Gizi Buruk (Marasmus & Kwashiorkor) (SDKI) beserta intervensi (SIKI):

1. Defisit nutrisi b.d ketidakmampuan mengabsorpsi nutrien dan peningkatan kebutuhan metabolisme d.d berat badan menurun di bawah -3 SD, otot atrofi, dan membran mukosa pucat

Intervensi Keperawatan:

2. Risiko infeksi b.d penurunan sistem imun (malnutrisi) dan gangguan integritas kulit

Intervensi Keperawatan:

3. Risiko termoregulasi tidak efektif b.d penurunan jaringan lemak subkutan dan penurunan laju metabolisme

Intervensi Keperawatan:

Evaluasi Keperawatan

Evaluasi disusun dalam format SOAP: data Subjektif (mis. keluarga melaporkan anak mau makan dan lebih aktif) dan Objektif (kenaikan berat badan baik bila >=10 g/kgBB/hari pada fase rehabilitasi (5-10 g/kgBB/hari tergolong sedang), edema berkurang, suhu dan gula darah dalam batas normal, tidak ada tanda infeksi), Analisis menilai apakah luaran SLKI tercapai (status nutrisi membaik, termoregulasi membaik, tingkat infeksi menurun), dan Planning melanjutkan, memodifikasi, atau menghentikan intervensi sesuai kemajuan fase tatalaksana WHO. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.

Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep Diare · Askep BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) · Askep Anemia · Daftar Askep Lengkap

Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?

Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.

📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3

Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Gizi Buruk (Marasmus & Kwashiorkor)

Apa perbedaan utama marasmus dan kwashiorkor?

Marasmus dominan akibat defisiensi energi total sehingga anak tampak sangat kurus tanpa edema (wajah tua, iga gambang, atrofi otot). Kwashiorkor dominan akibat defisiensi protein dengan hipoalbuminemia sehingga muncul edema bilateral pitting, moon face, dan rambut kemerahan mudah dicabut. Bila keduanya bersamaan disebut marasmik-kwashiorkor (sangat kurus disertai edema).

Mengapa pemberian makan pada gizi buruk harus bertahap dengan F-75 dulu baru F-100?

Pada fase stabilisasi metabolisme anak sangat rapuh, sehingga diberi F-75 (rendah protein, rendah natrium, energi terbatas ~75 kkal/100 ml) porsi kecil-sering untuk mencegah refeeding syndrome dan gagal jantung. Setelah kondisi stabil dan nafsu makan kembali, baru beralih melalui fase transisi ke F-100 (~100 kkal/100 ml) pada fase rehabilitasi untuk mengejar kenaikan berat badan (catch-up growth).

Mengapa zat besi tidak diberikan di awal tatalaksana gizi buruk?

Pada fase stabilisasi pemberian zat besi dihindari karena dapat memicu stres oksidatif dan justru memperberat infeksi (zat besi bebas digunakan bakteri untuk tumbuh) serta membebani metabolisme. Zat besi baru diberikan setelah anak masuk fase rehabilitasi (nafsu makan membaik dan mulai naik berat badan), biasanya setelah sekitar 2 minggu, bersamaan dengan F-100.

✓ Terakreditasi BAN-PT
✓ LAM-PTKes
✓ Yayasan UKI
✓ 40+ RS Mitra
✓ Sejak 1999