Asuhan Keperawatan (Askep) Gizi Buruk (Marasmus & Kwashiorkor)
Pengertian Gizi Buruk (Marasmus & Kwashiorkor)
Gizi buruk (severe acute malnutrition/malnutrisi energi-protein berat) adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak, umumnya balita, akibat asupan energi dan protein yang tidak adekuat dalam waktu lama dan/atau peningkatan kebutuhan akibat penyakit. Secara antropometri ditandai dengan berat badan menurut panjang/tinggi badan (BB/PB atau BB/TB) di bawah -3 SD, dan/atau lingkar lengan atas (LiLA) <11,5 cm pada anak 6-59 bulan, dan/atau adanya edema bilateral pitting. Gizi buruk dibedakan menjadi tiga bentuk klinis: marasmus (dominan defisiensi energi, anak tampak sangat kurus seperti "kulit membungkus tulang"), kwashiorkor (dominan defisiensi protein dengan hipoalbuminemia, ditandai edema), dan marasmik-kwashiorkor (kombinasi sangat kurus disertai edema). Kondisi ini menyebabkan disfungsi multiorgan dan menempatkan anak pada risiko tinggi kematian akibat hipoglikemia, hipotermia, dehidrasi, gangguan elektrolit, dan infeksi.
Etiologi (Penyebab)
- Asupan makanan tidak adekuat secara kuantitas maupun kualitas (kemiskinan, kerawanan pangan, pola asuh dan praktik pemberian makan yang salah)
- Penyapihan dini atau pemberian MP-ASI yang tidak tepat dan tidak bergizi seimbang
- Penyakit infeksi berulang atau kronik (diare, ISPA/pneumonia, TB, HIV, campak) yang meningkatkan kebutuhan dan kehilangan zat gizi serta menurunkan nafsu makan
- Gangguan absorpsi dan pencernaan (malabsorpsi, diare persisten, infestasi cacing)
- Penyakit penyerta/kelainan kongenital yang meningkatkan kebutuhan metabolik atau mengganggu asupan (penyakit jantung bawaan, palatoskizis, cerebral palsy)
- Faktor sosial dan pengetahuan ibu yang rendah, sanitasi buruk, serta akses layanan kesehatan terbatas
Manifestasi Klinis (Tanda & Gejala)
- Marasmus: berat badan sangat rendah (<-3 SD), tampak sangat kurus, wajah seperti orang tua (old man face), iga gambang, atrofi otot, kulit keriput, jaringan lemak subkutan hilang (baggy pants pada bokong), anak cengeng/rewel
- Kwashiorkor: edema bilateral pitting (mulai dorsum pedis hingga seluruh tubuh/anasarka), wajah membulat sembab (moon face), rambut tipis kemerahan mudah dicabut tanpa nyeri (tanda bendera), perubahan kulit (crazy pavement dermatosis), pembesaran hati, apatis/rewel
- Marasmik-kwashiorkor: gabungan tanda sangat kurus disertai edema
- Tanda umum: anak tampak lemah dan apatis, otot hipotrofi, lemak subkutan berkurang, gangguan pertumbuhan (BB dan TB di bawah standar)
- Tanda penyerta/komplikasi: hipoglikemia, hipotermia (suhu aksila <35,0 C atau rektal <35,5 C), tanda dehidrasi, pucat (anemia), tanda infeksi (demam atau justru tanpa demam)
- Defisiensi mikronutrien: gangguan mata akibat defisiensi vitamin A (xeroftalmia, bercak Bitot), stomatitis/cheilosis, kulit kering dan bersisik
- Nafsu makan menurun (gejala buruk pada kwashiorkor; uji nafsu makan penting sebelum menentukan rawat inap atau rawat jalan)
Pengkajian Keperawatan
Data yang dikaji perawat pada pasien Gizi Buruk (Marasmus & Kwashiorkor):
- Antropometri: berat badan, panjang/tinggi badan, hitung BB/PB atau BB/TB (z-score), lingkar lengan atas (LiLA), dan pemeriksaan edema bilateral pitting (derajat + sampai +++)
- Riwayat: pola makan dan riwayat pemberian ASI/MP-ASI, riwayat penyakit (diare, ISPA, campak, TB, HIV), imunisasi, riwayat penurunan berat badan, kondisi sosial-ekonomi keluarga
- Tanda vital lengkap: suhu (deteksi hipotermia bila aksila <35,0 C atau rektal <35,5 C), nadi, frekuensi napas, dan tanda syok/letargi
- Status hidrasi dan keseimbangan cairan: turgor kulit (sulit dinilai bila ada edema), mata cekung, kelembapan mukosa, produksi urine, riwayat diare/muntah
- Kadar gula darah (skrining hipoglikemia, ambang <54 mg/dL atau <3 mmol/L) dan tanda klinis hipoglikemia (letargi, kejang, penurunan kesadaran)
- Uji nafsu makan dan kemampuan menelan/menyusu untuk menentukan jalur dan jumlah pemberian makan
- Tanda infeksi dan komplikasi: demam, batuk/sesak, kondisi kulit dan lesi, mata (defisiensi vitamin A), serta hasil laboratorium (Hb, albumin, elektrolit, gula darah)
- Status psikososial dan stimulasi: tingkat kesadaran/aktivitas, interaksi anak dengan pengasuh, serta pengetahuan dan kesiapan keluarga dalam perawatan
Diagnosa & Intervensi Keperawatan
Berikut diagnosa keperawatan utama Gizi Buruk (Marasmus & Kwashiorkor) (SDKI) beserta intervensi (SIKI):
1. Defisit nutrisi b.d ketidakmampuan mengabsorpsi nutrien dan peningkatan kebutuhan metabolisme d.d berat badan menurun di bawah -3 SD, otot atrofi, dan membran mukosa pucat
Intervensi Keperawatan:
- Identifikasi status nutrisi, alergi/intoleransi makanan, dan kebutuhan kalori sesuai fase tatalaksana (F-75 pada stabilisasi, F-100 pada rehabilitasi)
- Monitor asupan dan berat badan secara berkala serta hasil pemeriksaan laboratorium (albumin, Hb, elektrolit)
- Berikan makanan terapeutik bertahap porsi kecil dan sering (F-75 saat stabilisasi, transisi ke F-100), hindari pemberian protein/energi berlebih di awal untuk mencegah refeeding syndrome
- Berikan suplementasi mikronutrien sesuai program (vitamin A, asam folat, zinc, dan multivitamin tanpa zat besi pada fase stabilisasi; zat besi ditambahkan setelah fase rehabilitasi)
- Kolaborasi dengan ahli gizi dan dokter untuk penghitungan kebutuhan kalori-protein dan penyesuaian diet sesuai kemajuan klinis
2. Risiko infeksi b.d penurunan sistem imun (malnutrisi) dan gangguan integritas kulit
Intervensi Keperawatan:
- Monitor tanda dan gejala infeksi lokal maupun sistemik (suhu tubuh, lesi kulit, batuk/sesak), ingat infeksi pada gizi buruk sering tanpa demam
- Terapkan kebersihan tangan sebelum dan sesudah kontak, batasi jumlah pengunjung, dan terapkan teknik aseptik pada setiap tindakan
- Rawat kulit dan area edema/lesi (crazy pavement dermatosis), jaga kebersihan dan kelembapan kulit serta cegah luka tekan
- Berikan antibiotik dan terapi sesuai program serta pastikan kelengkapan imunisasi (mis. campak) sesuai indikasi
- Edukasi keluarga tentang kebersihan, sanitasi, dan tanda infeksi yang harus segera dilaporkan
3. Risiko termoregulasi tidak efektif b.d penurunan jaringan lemak subkutan dan penurunan laju metabolisme
Intervensi Keperawatan:
- Monitor suhu tubuh secara berkala (waspadai hipotermia bila suhu aksila <35,0 C atau rektal <35,5 C)
- Hangatkan anak dengan metode kontak kulit ke kulit (metode kanguru), selimut, dan tutup kepala; hindari anak basah atau terpapar udara dingin
- Atur suhu lingkungan ruangan tetap hangat (sekitar 25-30 C) dan jauhkan dari jendela/aliran udara dingin
- Berikan makanan/minuman hangat sesuai jadwal (termasuk pemberian malam hari) untuk mencegah hipoglikemia yang memicu hipotermia, dan pantau gula darah
- Kolaborasi penanganan bila ditemukan hipotermia disertai hipoglikemia atau tanda infeksi sebagai komplikasi
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi disusun dalam format SOAP: data Subjektif (mis. keluarga melaporkan anak mau makan dan lebih aktif) dan Objektif (kenaikan berat badan baik bila >=10 g/kgBB/hari pada fase rehabilitasi (5-10 g/kgBB/hari tergolong sedang), edema berkurang, suhu dan gula darah dalam batas normal, tidak ada tanda infeksi), Analisis menilai apakah luaran SLKI tercapai (status nutrisi membaik, termoregulasi membaik, tingkat infeksi menurun), dan Planning melanjutkan, memodifikasi, atau menghentikan intervensi sesuai kemajuan fase tatalaksana WHO. Evaluasi dilakukan dengan metode SOAP untuk menilai pencapaian tujuan asuhan: teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
Lihat juga: Konsep Asuhan Keperawatan 5 Tahap · Askep Diare · Askep BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) · Askep Anemia · Daftar Askep Lengkap
Ingin Mahir Menyusun Asuhan Keperawatan?
Pelajari askep secara mendalam + praktik di 40+ RS mitra. Daftar D3 Keperawatan AKPER YUKI — terakreditasi BAN-PT.
📝 Daftar PMB 2026📚 Program D3Pertanyaan Umum (FAQ) Askep Gizi Buruk (Marasmus & Kwashiorkor)
Apa perbedaan utama marasmus dan kwashiorkor?
Marasmus dominan akibat defisiensi energi total sehingga anak tampak sangat kurus tanpa edema (wajah tua, iga gambang, atrofi otot). Kwashiorkor dominan akibat defisiensi protein dengan hipoalbuminemia sehingga muncul edema bilateral pitting, moon face, dan rambut kemerahan mudah dicabut. Bila keduanya bersamaan disebut marasmik-kwashiorkor (sangat kurus disertai edema).
Mengapa pemberian makan pada gizi buruk harus bertahap dengan F-75 dulu baru F-100?
Pada fase stabilisasi metabolisme anak sangat rapuh, sehingga diberi F-75 (rendah protein, rendah natrium, energi terbatas ~75 kkal/100 ml) porsi kecil-sering untuk mencegah refeeding syndrome dan gagal jantung. Setelah kondisi stabil dan nafsu makan kembali, baru beralih melalui fase transisi ke F-100 (~100 kkal/100 ml) pada fase rehabilitasi untuk mengejar kenaikan berat badan (catch-up growth).
Mengapa zat besi tidak diberikan di awal tatalaksana gizi buruk?
Pada fase stabilisasi pemberian zat besi dihindari karena dapat memicu stres oksidatif dan justru memperberat infeksi (zat besi bebas digunakan bakteri untuk tumbuh) serta membebani metabolisme. Zat besi baru diberikan setelah anak masuk fase rehabilitasi (nafsu makan membaik dan mulai naik berat badan), biasanya setelah sekitar 2 minggu, bersamaan dengan F-100.
